Sat. Nov 21st, 2020

Rumah Daswati ; Sejarah yang Terlupakan

2 min read

Oleh : Ahmad Mufid
Direktur kelompok Studi Kader (Klasika)

BELAKANGAN, kembali ramai perbincangan tentang Rumah Daswati. Pembuatan pagar beton di sekitar bangunan yang memiliki nilai sejarah itu, menjadi pemantik yang mengusik nurasi masyarakat akan peninggalan sejarah yang terlupakan itu.

Ya, rumah yang merupakan milik seorang tokoh Lampung itu. Tercatat sebagai bangunan berseharah bagi bersirinya Bumi Riwa Jurai. 7 Maret 1963 rumah yang berlokasi di Jalan Tulang Bawang No. 11, Enggal, Bandarlampung itu digunakan sebagai lokasi pertemuan para panitia yang membahas kenaikan status daerah Lampung—yang semula termasuk ke dalam Daswati I Sumatera Selatan—menjadi Provinsi atau saat itu disebut Daerah Swantantra Tingkat I.

Ya, saat itu Lampung masih berstatus keresidenan. Pertemuan para tokoh di rumah bersejarah itu lah, yang menyepakati rumah tersebut dijadikan Kantor Panitia Daswati I (Perumus Provinsi Lampung).

Berdasarkan catatan sejarah itu, Rumah Daswati layak dijadikan warisan sejarah dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah Provinsi Lampung. Namun, bangunan tersebut kini tak terawat dan beberapa bagian telah mengalami kerusakan.

Sebagai bangunan bersejarah, kondisinya saat ini sudah mengkhawatirkan. Harus ada perhatian khusus dari pemerintah soal bangunan ini. Sebagai, kaum muda kami yang tergabung dalam Klompok Studi Kader (Klasika) akan menggelar diskusi tentang sejarah Lampung yang akan menghadirkan Peneliti Sejarah Arman AZ, Ketua Pusat Kajian Studi Kajian Ilmiah Sejarah Budaya Lampung (PUSKAM SBL) Yuridhis Mahendra, sera Penggiat Klasika Chepry Chaeruman Hutabarat.

Tujuan diadakannya Dialoklasika ini, agar masyarakat, terlebih pemerintah memberikan perhatian, bukan hanya Rumah Daswati, tapi juga semua peninggalan sejarah yang ada di Lampung. Diskusi ini terbuka untuk umum, dilaksanakan pada Sabtu malam, 8 Agustus 2020 di Rumah Ideologi Klasika, Jalan Sentot Alibasa Gg. Pembangunan A5/E No. 121, Waydadi, Sukarame.

Diskusi ini juga akan disiarkan melalui streaming media sosial resmi Klasika.

Kita semua tahu, saat ini kondisi Rumah bersejarah yang bearsitektur Art Deco dan menjadi trend 1950 ini, terlihat tidak terurus serta terkesan diabaikan. Konon kabarnya, rumah bersejarah itu telah dimiliki oleh seorang pengusaha asal Bandung, dan beredar isu akan dihancurkan untuk dibangun rumah toko (ruko).

Bila itu terjadi (dihancurkan dan dibangun ruko. Red), tentu sangat disayangkan. Karena rumah ini adalah rahim dari ibu dari anak bernama Provinsi Lampung.

Ayo kita merujuk kepada Undang-Undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, rumah ini sudah termasuk Cagar Budaya Provinsi Lampung yang wajib dilindungi, Karena memang telah berumur lebih dari 50 Tahun.

Gubernur Lampung priode sebelumnya, M. Ridho Ficardho pernah berjanji akan membeli rumah tersebut, untuk kemudian direnovasi dan dijadikan semacam museum sejarah Lampung atau ruang terbuka. Namun hingga ahir masa jabatannya dan sekarang di rezim Arinal Djunaidi dan Chusnunia belum ada sinyal langkah penyelamatan rumah bersejarah tersebut.

Melalui diskusi, ayo kita dobrak nurasi pengusa agar sedikit saja, membelokkan pandangannya pada bangunan bersejarah itu.

Trimakasih.

More Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.