Wed. Nov 25th, 2020

Proyek SPAM Dikeluhkan, PT BCK Enggan Disalahkan

2 min read

Disidak Komisi IV, Kontraktor Klaim Sesuai Aturan

JARRAKPOSLAMPUNG – Proyek pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di sepanjang Jalan Lintas Sumaretra (Jalan Soekarno Hatta) ruas dikeluhkan masyarakat. Pasalnya, selain lambat, pembangunan SPAM tersebut dinilai asal, lantaran mengabaikan keselamatan pengguna jalan.

Anehnya, PT Bangun Cipta Konstruksi (BCK) enggan disalahkan terkait kondisi proyek yang merugikan pengguna jalan dan telah banyak menelan korban tersebut. Melalui Proyek Managernya, Rifi Nur Rifki berdalih jika pihaknya terkendala aturan terkait pengerjaan SPAM tersebut.

“Ya, kami merasa kesulitan karena aturan waktu pengerjaan yang hanya di perbolehkan enam jam. Kerjanya pun di malam hari. Itu sebabnya galian sering amblas dan menelan korban jiwa,” kata Rifki.

Untuk batas waktu pengerjaan, lanjut Rifi, pihaknya menargetkan ahir Maret 2020 dapat diselesaikan, dan sesuai dengan aturan.

“Sekarang pengerjaannya sudah mencapai 97 persen. Kami terget bulan ini (Maret) selesai,” tukasnya.

Hal tersebut membuat Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung melakukan inspeksi mendadak kesejumlah titik pengerjaan proyek APBN itu.

Dipimpin Wakil Ketua Komisi IV, Iswan Nur Caya, rombongan langsung memastikan jika pengerjaan proyek senilai Rp750 miliar itu segera dirampungkan agar tidak menimbulkan korban berikutnya. Sebab, sepanjang pengerjaannya tidak sesikit pengguna jalan yang menjadi korban.

“Ya, walau pun ini proyek pusat. Karena ini berda di ruanglingkup kerja kami, maka kami wajib melalukan pengawasan,” kata Iswan.

Ditempat yang sama, Anggota Komisi IV DPRD Lampung, Soni Setiawan sempat turun kelubang galian untuk memastikan pengerjaan SPAM tersebut sesuai dengan aturan.

“Saya sudah lihat langsung. Lubang-lubang yang digali cukup dalam. Ini jika tidak memperhatikan faktor keselamatan pengguna jalan, sangat membahayakan. Karenannya kami minta pembirong lebih memperhatikan Amdalnya,” kata Soni.

Diketahui, proyek yang mengunakan APBN dengan total Rp1,2 triliun ini banyak dikeluhkan karena menelan korban, terlebih bagi pengguna jalan. Untuk Lampung sendiri, proyek ini telah menghabiskan anggaran Rp750 miliar. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.