Thu. Nov 26th, 2020

Komisioner KPU Hasil Suap, Bagaimana Kerjanya?

3 min read

Pakar Hukum Unila : Dr Rudy SH LLM

Dr Rudy SH LLM : Harus Diusut Sampai Akarnya

JARRAKPOSLAMPUNG – Untuk menjadi seorang Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) setidaknya ada empat kriteria yang harus dimiliki, yakni kompetensi, integritas, kemampuan kemimpinan, dan independensi.

Lalu, bagaimana jika untuk seorang komisioner atau calon komisioner terlibat suap? Dosen Hukum Universitas Lampung (Unila), Dr Rudy SH LLM mengatakan, tentu sangat disayangkan sebuah lembaga penyelenggara pemilu komisionernya terindikasi suap.

“Secara etika sudah tidak benar. Bagaimana akan tercipta Pemilu yang jurdil jika penyelenggaranya tidak berintegritas”.

Apalagi, lanjut Rudy, pada kasus dugaan suap yang melibatkan Komisioner KPU Lampung, dilihat dari pengakuan pelapor pada kasus tersebut kuat dugaan adanya upaya Terstruktur, Sitematis dan Masif (TSM).

“Kita harus mengawal kasus ini agar terang benderang karena dilihat dari fakta yang diungkap ada kemungkinan peran KPU RI dalam kasus ini,” kata Rudy kepada jarrakposlampung.com melalui pesan Whatsappnya, Jumat (8/11/2019).

Dari cerita tersebut, lanjut Rudy, kuat dugaan adanya upaya pengondisian mulai dari penetapan Tim Seleksi (Timsel) untuk mengawal orang tertentu agar menjadi komisioner.

“Ya, karenanya harus kita kawal bersama. Jangan-jangan seluruh proses dari awal penetapan Timsel juga diduga ada permainan untuk mengawal orang tertentu,” tegasnya.

Apalagi, tambah Rudy salah satu komisioner berinisial ENF begitu berani menawarkan peluang suap. “Kuat dugaan ada yang menjamin di pusat (KPU RI), sehingga ENF berani menawarkan,” pungkasnya.

Diketahui, salah satu komisioner KPU Lampung berinisial ENF dilaporkan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) lantaran diduga kuat melakukan suap kepada oknum di pusat (KPU RI) sebagai syarat untuk lolos seleksi KPU.

Tidak hanya itu, ENF juga menawarkan kepada salah satu peserta seleksi calon komisioner KPU Tulang Bawang, VYP melalui peserta seleksi calon komisioner KPU Pesawaran, LP untuk menyetorkan sejumlah uang.

Kasus tersebut terungkap berdasarkan keterangan anggota Tim Seleksi KPU Lampung, Dr.Budiono yang mengaku mengetahui proses suap dan memiliki barang bukti yang cukup.

“Buktinya ada semua, ada rekamannya,” kata Dr Budiono saat memberikan keterangan pers di Kantor LBH Bandar Lampung, Jumat (8/11/2019).

Menurut Dr Budiono, pada Minggu (3/11/2019) pukul 6.30 WIB ia didatangi GS, yang tak lain adalah suami dari VYP calon anggota KPU Tulang Bawang. GS mengaku bahwa istrinya ditelepon oleh salah satu calon anggota KPU Pesawaran berinisial LP.

“LP mengatakan bahwa VYP tidak akan lolos sebagai anggota KPU karena berdasarkan data sistem informasi partai politik dinilai sebagai anggota partai. Bisa lulus kalau menyiapkan uang Rp150 juta,” kata Dr Budiono menirukan pengakuan GS yang menceritakan prihal tawaran LP.

Calon anggota KPU Pesawaran LP itu, lanjut Dr Budiono, juga mengaku sudah menyerahkan uang Rp170 juta kepada oknum di Jakarta melalui Komisioner KPU Provinsi Lampung terpilih ENF.

“Dari tawaran LP tersebut terjadilah pertemuan di salah satu kamar di Hotel Swisbell antara ENF bersama LP dengan GS dan ada kesepakatan yang ditindaklanjuti keesokan harinya,” kata Dr Budiono.

Dalam pertemuan tersebut, lanjutnya, ENF menceritakan bahwa dirinya terpilih menjadi komisioner KPU Lampung lantaran menyetorkan uang Rp220 juta kepada oknum yang ada di Jakarta. Atas tawaran ENF tersebut, keesokan harinya (4 November 2019) GS menyerahkan uang Rp100 juta kepada LP di lobi Hotel Horison.

“Buktinya ada semua. Saya meminta pendampingan LBH Bandarlampung dalam rangka pelaporan. ENF akan kami laporkan ke DKPP, sedangkan LP kami laporkan ke Mapolda Lampung,” pungkasnya. (ari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved.