KOlomPINTOSosial dan Politik

EPISODE ANDRE ROSIADE

Adalah sebuah pertanggung-jawaban yang berat bagi diri kita sendiri bila kita tak memberi pertolongan dan tak memberi bantuan di saat mana kita mampu membantu dan menolong orang lain.

Catatan: Pinto Janir (sastrawan)

Sungguh, saya bukan siapa-siapa,kawan. Saya hanya seorang seniman. Sejak dulu hingga kini, hari-hari saya sibuk sendiri dengan menyulam kata-kata seraya tiada henti berdo’a padanya supaya menitipkan diksi dari langitNya.

Bila diksi jatuh dari “kerajaanNya” , saya menyambutnya dengan elok-elok dan akan saya tanam di taman pekarangan narasi saya. Sebagian kata, mungkin saja terajut menjadi prosa.Sebagian lagi barangkali tersusun menjadi berita. Sebagian yang lain terungkai menjadi sajak dalam aksara . Sebagian lagi terdengar menjadi lirik lagu yang kuharap semerdu nyanyian jiwa. Dan sebagian yang lain ia menjadi lukisan yang tersampaikan pada kuas yang saya kanvaskan dalam berbagai garis dalam corak warna kehidupan kita.

Begitulah adanya.

Saya bukan siapa-siapa,kawan.

Pada bulan suci Ramadan di bumi yang sedang mewabah virus Corona, ini kali saya ingin menulis tentang apa saja sekedar penghalau risau yang dihantui wabah yang menggigilkan rasa. Tapi saya tidak tahu, apa yang akan saya tulis. Ini mengingatkan saya pada seorang kawan lama yang pernah berkata. Bila ingin “mengetahui” kehendak Tuhan, coba sekali waktu berjalan pada sebuah persimpangan. Kemudian biarkan saja hati berkata, mau pilih jalan yang mana.

Begitu juga keadaan saya saat ini. Saya harus memulai menulisnya dari mana? Haruskah berputar-putar saja sembari memungut kata-kata dan menjinakkannya. Semampu apapun saya menjinakkan kata, kalau ia tanpa makna; kata tak akan pernah menjadi apa-apa. Ia hanya akan menjadi percuma.

Saya paling tidak mau bila kata yang tiba menjadi kata yang percuma. Percuma menulis kalau tak ada makna.
“ Ya Allah, lancarkan saya menulis bila tulisan ini ada manfaatnya. Kalau tidak ada manfaatnya; hentikan saya melanjutkan tulisan ini, Tuhan“.

(Baiklah. Pada hisapan rokok pengabisan ini, saya hentikan sementara menulis sampai di sini…Biarkan saya memohon inspirasi dan petunjuk dariNya. Biarkan, saya ambil wudhu dulu. Saya solat Isya dulu. Saya solat tarwih dulu. Saya lihat jam menunjukkan pukul 21.36 Wib sekarang)

***
22.22 Wib.
Alhamdulillah !

Andre Rosiade. Malam ini, nama itu bulat dalam pikiran saya. Ia bagai sebulat bulan yang bersinar terang di langit kota Bukittinggi tanpa bintang. Bias cahayanya, seperti suluh dalam pikiran terang.
Aku hisap rokok ini dalam-dalam. Bahkan dalam mata terpejam, kurasakan asap kuat menekan rongga nafas. Namun tidak dalam sakit, tapi dalam keindahan rasa. Asap kulepaskan pelan-pelan. Sebelum ia sempat membentuk lukisan, angin lunak membawanya pergi dalam diam.

 

Andre Rosiade. Aku mengenalnya sudah sejak lama. Sejak anak muda itu namanya muncul di tengah Padang semasa hangat-hangatnya soal pertarungan menjelang pilkada di kota yang panas ini. Wajahnya terpajang di tiap sudut kota. Dengan cepat ia bisa merebut hati warga kota. Terutama, barisan paramuda. Tak saja potonya yang banyak memenuhi baliho di hampir tiap sudut kota. Secara lahiriah ia temui warga kota dari satu kelurahan ke kelurahan yang lain. Ia tawarkan pikiran-pikiran baru membangun kota Padang nan di hati.

 

Andre membawa gagasan, warga kota menyambutnya dengan penuh harapan. Sebagian publik memprediksi, Andre bakalan menang di pertarungan pilkada masa itu. Para pesaingnya, mungkin saja “menggigil” menghadapi nama Andre yang kian hari kian populer dan melambung di tengah warga kota ini.

 

Anak muda yang tampil di panggung politik dengan menawarkan pikiran dan gagasan yang solutif, tentu akan mudah merebut perhatian banyak orang. Apalagi, sebagian warga kota mungkin sangat merindukan sosok pemimpin yang “berpikir” dan melaksanakan pikirannya di tengah kehidupan berfakta. Stil itu, saya amati, ada pada sosok Andre di masa itu.

 

Pada menit-menit penghabisan, nama Andre ditunggu-tunggu publik untuk tercatat sebagai pasangan calon walikota. Tapi, apa yang ditunggu itu; rupanya tak menjadi nyata. Hingga tiba jadual penetapan nama calon resmi diumumkan KPU Kota Padang, nama Andre tak kunjung tertera.

 

Sebagian warga pendukung Andre, harus menelan pil kelat di tengah “ajaibnya” dunia politik kita.

 

Sejak dulu saya suka mengamati suasana apa yang sedang terjadi. Saya mafhumi “peristiwa” politik ini, walau sebenarnya saya sedikit kecewa atas gagalnya anak muda itu maju di pertarungan itu. Ada anak muda di tengah gemuruh pertarungan pilkada, pastilah seru!

 

Entah mengapa, saya suka dengan sosok anak muda yang cerdas,pintar,gigih dan memiliki cita-cita untuk ikut memperbaiki negeri ini menjadi lebih baik.

 

Adat manusia bagaikan sebuah per.Makin keras ditekan, makin tinggi lambungannya.

 

“ Niscayailah bung, saya yakin, sosok seperti Andre tak akan mudah tenggelam. Takdirnya, mengapung. Bukan terbenam, bung!” seorang sahabat berkata pada saya ketika kami mempercakapkan nama Andre Rosiade.
“ Orang cerdas punya nyali, pasti akan memegang kendali!”, katanya yakin sekali.

Pada Pilpres terdahulu, tiba-tiba nama Andre berkibar di antero nusantara. Ia bergabung dengan Gerindra. Pada saat itu namanya mulai melambung. Apung-apung pikirannya muncul di tengah permukaan pertarungan Pilpres yang sengit, hangat dan tajam !

 

Puncaknya pada Pileg dan Pilpres yang baru lalu. Andre tampil membela pikiran Prabowo dan gerindranya. Tiap saat, ia ada di layar kaca televisi kita. Ia menjadi pandeka dalam tiap debat di masa Pilpres yang hangatnya luar biasa.

Si Padang itu namanya mulai menjadi topik hangat di pentas nasional kita. Namanya melambung menjadi politisi “kelas” nasional.

 

Si Padang itu bernarasi jelas dan terang. Agaknya apa yang ada dalam pikiran.Agaknya apa yang tersimpan dalam hati. Apa yang tampak dalam fakta, ia sampaikan dalam “kejujuran” berbahasa. Tentu saja, sebagian orang ada yang mengumpat, namun sebagian orang menyampaikan tabik salam hormat. Sebagian memuja, sebagian menghujat. Sebagian mengangguk,sebagian mandanguk.

 

Riwayat Andre di pentas politik, terus saja bergulir seperti air mengalir.

 

Alhasil, Andre yang maju menjadi calon legislatif DPR RI Dapil Sumbar 1 dari Gerindra berhasil meraup suara terbanyak. Bahkan Gerindra di dapil ini sukses menghantarkan dua kadernya ke Senayan, yakni Andre dan Suir Syam.

 

Sebelum resmi dilantik menjadi anggota DPR RI, suara Andre sudah keras menyuarakan isi hati rakyat sebagai pemberi amanat.

 

Orang-orang lurus merasa mendapat harapan, orang-orang lain seperti mendapat “ketaknyamanan”.

 

Gaya berpolitik Andre memang beda. Ia berpolitik terus-terang. Tak ada basa-basi. Nyaris tanpa bahasa kias. Bahasanya bahasa berjelas-jelas. Kalau menyangkut hajat hidup orang banyak, dapat dipastikan suara anak muda ini akan “garang”. Ia seperti tak peduli dengan “risiko” diri surang. Agaknya, urat “takut”nya sudah lenyap di saat mana ia berkehendak memperjuangkan “kebenaran” yang ada dalam hati dan pikirannya.

 

Begitu resmi dilantik, tak dapat “diagak” lagi suara Andre menggelegar. Ia seperti seorang “cleaning service” yang sedang mengepel lantai yang kumuh di tengah lalu lalang orang-orang di sebuah “terminal”. Ia mengepel dengan kesungguhan hati. Kalau jatuh keringatnya, ia seka tanpa keluhan dan seakan tanpa lelah. Begitulah agaknya sebuah narasi.

 

Begitulah. Ya, baitulah !

 

Saya bakar lagi rokok ini . Saya tekan catus buruk berulangkali. Saya biarkan apinya agak lama menyala. Sebelum ada angin meniupnya, saya lekatkan cepat-cepat ke ujung rokok kretek ini. Saya hirup. Pelan saja. Saya lepaskan pelan jua. Asapnya, kali ini seperti lukisan abstrak yang indah dalam pangana saya.

 

Olala.

Amboinya.

Andre Rosiade, saya mengenalnya. Ia orang jujur dalam kata dan bahasa.Dalam sikap dan ucapan. Ia tak pendendam. Baginya, apa yang terasa itulah apa yang sampai. Ia konsisten. Dan ia pejuang “politik” yang sungguh-sungguh berlaksana.

 

Andre itu seperti halnya adalah sosok yang “iya” itu “iya” dan “tidak” itu “tidak” . Iya agaknya tak mau bolak-balik. Mungkin saja, bolak balik bikin capek bikin waktu habis sia-sia. Ia seperti main cepat, kalau iya…laksanakan…kalau tidak hentikan. Mungkin saya rasa begitu sikapnya.

 

Lalu, sejak beberapa bulan belakangan ini terdengar kabar di mana DPP Gerindra menetapkan Andre sebagai Ketua DPD Gerinda Sumbar.

 

Wow!

 

Ia menggantikan Nasrul Abit yang kini jadi Wagub Sumbar. Kita tahu, di Sumbar Gerindra mendudukkan banyak kadernya di DPRD propinsi dan kota/kabupaten di Sumbar. Bahkan tanpa koalisi, Gerindra bisa mengusung calon gubernur tegak sendiri.

 

Tak sedikit orang berpendapat, bahwa Andre Rosiade sedang berkeinginan jadi calon gubernur.

 

Tapi, saya adalah salah seorang yang membantah pendapat itu. Saya yakin. Saya percaya, Andre tidak akan mencalonkan diri pada pemilihan gubernur Sumbar periode terkini. Namun, sebaliknya saya yakin, Andre akan maju menjadi calon Gubernur untuk pemilihan lima tahun ke depan, bukan sekarang!
***

Masa Corona tiba. Dunia dilanda virus mematikan ini. Hingga covid19 berjangkit di Indonesia sampai menjalar ke berbagai propinsi termasuk Sumatera Barat. Kita pun gamang.

 

Saya mengikuti berita.

 

Andre seperti halnya gamang melihat keadaan yang ada . Ia seperti tak sudi bila “dunsanaknya” di Sumbar ditimpa virus ini. Dari parlemen Andre bersuara keras sekali. Ia serukan PSBB. Ia desak Pemerintah untuk mengizinkan Sumatera Barat ber-PSBB. Alhasil, dalam waktu cepat, Pusat menyetujui PSBB di nagari kita.

***

23.31 WIB

 

Sebagai Ketua DPD Gerindra.Sebagai anggota DPR RI asal Dapil I Sumbar, dengan ligat Andre menyerukan gerakan kemanusian kepada seluruh kader Gerindra yang duduk menjadi anggota DPRD propinsi,kota/kabupaten di Sumbar.

 

Andre memulainya secara pribadi. Agaknya ia jadikan dirinya sebegai “cermin” tempat mengaca. Ia membantu dengan jumlah “ribuan”.Ia membantu dengan jumlan “tonan”. Ia membantu dalam jumlah miliaran rupiah. Ia rogoh dari koceknya sendiri. Bukan dari siapa-siapa. Ia bentuk tim relawan penyemprotan disinfektan. Ia bergerak dari pintu ke pintu menyalurkan berbagai bantuan dalam jumlah yang banyak. Ia terus bergerak tanpa lelah. Ia lawan corona tidak dengan kata-kata.Tidak dengan “diskusi”. Ia laksanakan kehendak hati yang penuh rasa kemanusiaan itu dengan kesungguhan bersikap dan bertindak ligat sekali.

 

Ia seakan tak ambil peduli, mau disebut pencitraan atau tidak, yang penting agaknya baginya, ia “mengulurkan” tangan bagi masyarakat yang terdampak corona.

 

Lalu ada suara yang “curiga”….. jangan-jangan Andre Rosiade menjadikan corona sebagai panggung politik untuk kampanye karena hendak mencalonkan diri menjadi calon gubernur Sumbar….

 

Ah, soal ini, saya tak bisa menduga-duganya.

 

Apakah gerakan kemanusiaan yang dilakukan Andre Rosiade bermuatan “kampanye” Pilkada atau bukan?

 

Tapi, pendapat saya pribadi, mau itu pencitraan atau bukan, mau itu kampanye atau bukan, yang penting ada tangan terjulur yang membantu kehidupan rakyat yang susah di masa corona.

 

Kalau dapat, semua orang berlebih, semua orang kaya, semua anggota DPR RI,DPRD Propinsi/kota/kabupaten ramai-ramai turun ke lapangan secara total.

 

Bagi saya, di masa corona ini mari kita “berlomba-lomba membantu orang susah”.
Mari kita berlomba-lomba berbuat kebaikan sesama umat.
Mari kita berlomba-lomba bersedekah.

 

Tapi, baiklah. Karena ini sebuah kepastian, saya ingin bertanya langsung ke Andre Rosiade, apakah ia akan maju menjadi calon gubernur Sumbar?

 

Tunggu sebentar.

Merokok saya satu dulu dih.
Dingin malam sudah makin menyengat di kota Bukittinggi ini.Apalagi saat menulis ini, jendela ruang kerja saya buka lebar-lebar. Walau angina masuk leluasa, saya tak ingin menutupnya sebelum tulisan ini tuntas dan sampai ke muaranya.

 

Saya sedang menghubungi Andre sekarang !

 

***
“ Ambo tak akan maju jadi calon gubernur untuk periode sekarang! Ambo akan selesaikan tugas ambo di DPR RI. Masyarakat memberi amanat kepada ambo untuk waktu lima tahun di DPR RI. Ambo tak ingin melukai kepercayaan masyarakat yang telah menitipkan suaranya untuk ambo !”

 

Ops. Itu jawaban Andre.

 

Lalu…?

 

“ Ambo tak sanggup menyaksikan derita masyarakat di masa corona. Adalah sebuah pertanggung-jawaban yang berat bagi diri kita sendiri bila kita tak memberi pertolongan dan tak memberi bantuan di saat mana kita mampu membantu dan menolong orang lain. Saya akan merasa bersalah dan merasa tersiksa oleh diri sendiri bila di saat kita memiliki sedikit kekuasaan dan kekuatan untuk menjulurkan tangan tapi tidak kita lakukan dengan semestinya”, kata Andre. Kemudian hening sebentar.

 

“ Ambo berbuat sesuai kemampuan ambo. Mungkin apa yang ambo lakukan ini belum seberapa. Namun ambo berharap, sekecil apapun yang ambo lakukan, mudah-mudahan dapat meringankan beban masyarakat kita yang terdampak virus corona. Harapan ambo, semoga Tuhan cepat mengangkat virus ini dari muka bumi.”, ujar Andre. Suaranya agak bernada sabak.

 

Andre Rosiade.

Teruslah menjadi pejuang di tengah kesusahan menghadapi virus yang mematikan ini.

“Ya Allah, sehatkan Andre dan keluarga, limpahkan rezeki dan karuniaMu padanya !” doaku menutup tulisan ini. (Bukittinggi,0.02/100520)

 

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close