KOlomPINTOSosial dan Politik

SURAT RINDU UNTUK UDA INDRA CATRI DI TENGAH SIKSA BADAI CORONA…!

Ia Perangi Corona Berbasis Nagari

 

Oleh: Pinto Janir (Sastrawan)

Indra Catri, nama itu saya kenal sudah sejak lama. Sejak saya menjadi wartawan di Mingguan Canang, sekitar tahun 1990-an, saya sering ke balaikota Padang. Ke sana bukan sekedar mencari berita, namun untuk bercakap-cakap dan mahota-hota menyangkut isu aktual di tengah kota. Biasanya, sehabis mahota-hota itu, inspirasi saya terbudur menulis. Sebagian menjadi berita, sebagian terkemas menjadi bentuk opini.

Walaupun kala itu usia saya masih sangat belia, namun “orang” yang saya jadikan tempat mahota, tidak sembarangan. Saya malas kalau sekedar mahota-hota saja tanpa ada sesuatu yang saya dapatkan setelah dari bercakap-cakap itu. Mahota ka mahota kalau hanya untuk buang-buang waktu, itu bukan adat saya sejak dulu.

Kawan bicara saya harus kawan yang “berisi” biar saya dapat menambah gelas pikiran saya.

Ada pikiran.Ada pangana yang membuka cakrawala saya akan makin lapang dibuatnya. Sejak dulu, saya memang suka mahota-hota dengan orang-orang yang usianya jauh lebih tua dari saya. Sejak kecil, kawan saya memang orang-orang “gadang” saja. Walau saya kelas satu SMP, teman bermain saya, mungkin orang kelas satu SMA.

Wajar saja, sewaktu di Mingguan Canang, saya sangat lekat dan dekat dengan senior wartawan, namanya Alwi Karmena. Usia saya dan Bang Al—begitu belakangan ini saya menyebutnya—memang terpaut agak-agak jauh juga sedikit. Ketika Bang Alwi sudah beranak-pinak, saya masih bujang.Ketika bang Alwi sudah bercucu, anak saya baru beranjak gadang. Begitulah….

Di mana ada Alwi, di situ pasti ada saya, begitu juga sebaliknya. Kebetulan, Bang Alwi dan saya sama-sama menjadi redaktur di Mingguan yang didirikan oleh tokoh Pers Nasional itu, alm. Nasrul Siddik namanya. Inyik Nasrul, juga salah seorang pendiri Harian Singgalang.

Inyik Nasrul Siddik, Alwi Karmena dan saya adalah sahabat seorang Indra Catri. Kami sebenarnya berkonco, tapi banyak orang yang tidak tahu.

“ Indra Catri itu cerdas…!” begitu kata Inyik Nasrul sewaktu saya menyebut-nyebut nama Indra Catri di hadapan beliau.

Kalau kata Bang Al, Indra Catri itu: “ Pak Bupati awak bana !”

Ya, saya mengenal sosok Indra Catri sewaktu Bang In—ya saya berabang ke Pak Bupati ini sejak semula kenal—kira-kira sewaktu beliau menjabat Kabid Kabid Statistik dan Laporan Bappeda Kota Padang. Karena daya cerdas itu pula agaknya yang membuat Zuiyen Rais Walikota Padang ( 1993-2003) sangat dekat dan “peduli” dengan Indra Catri.

“ Ia asset pikiran di tengah Padang”, suatu kali Pak Zuiyen pernah bicara begitu pada saya.

Indra Catri, anak ITB, alumni SMA 1 Bukittinggi. Gagah orangnya. Kalau bicara penuh ekspresif. Bila bicara tentang suatu hal menyangkut pikiran, ia akan meledak-ledak menguraikannya. Pikiran sosial.Pikiran politik. Pikiran budaya. Pikiran ‘sufistik’. Pikiran-pikiran beraroma filsuf.Kemas olehnya.

Tapi sekali waktu, saya suka membantahnya. Tak tahu saya, apakah Bang In berang saat saya “agak” gemar membantah beliau itu atau tidak. Sungguh, saya tidak tahu. Yang saya tahu, kami tidak pernah “berseberangan”.

Saya sengaja membantah beliau, dengan harapan dapat memancing pikiran-pikiran jernih beliau tentang suatu peristiwa aktual.

Kalau Bang In sudah “terpancing”, saya tinggal menyimak pikirannya. Sebagian menjadi cakrawala, sebagian menjadi inspirasi untuk menulis. Pikirannya sarat dengan gagasan-gagasan cerdas.

Saya tahu, Bang In itu kalau berang hanya sebentar. Hanya sepermalaman. Kalau pagi sudah tiba, siangnya kami bertemu, maka senyum dan sapanya akan kembali tiba seperti semula.

Bang In bagi saya adalah “riwayat”. Ia bagai “kenangan hidup” yang tersimpan rapi di album kehidupan saya, seperti saya masih menyimpan potret Bang In yang datang sewaktu saya berhelat dulu.

Ketika Bang In mencalonkan diri jadi Bupati Agam—saya bukan tim suksesnya. Bako saya orang Tanjung Duriankapeh Tiku. Mertua laki-laki saya, orang Padanglua, Agam ( yang juga berkawan dengan Bang In—karena pernah sama-sama jadi pejabat di Kota Padang), mertua perempuan saya orang Pasabaringin Lubuakbasuang. Kawan-kawan saya banyak orang Agam.

Walau saya bukan tim sukses Bang In, tetap juga orang-orang yang saya kenal saya “arah-arahkan” untuk memilih Bang In. Di mata saya, seorang Indra Catri pasti akan mampu membawa Agam menjadi kabupaten Madani. Menjadi kabupaten yang kian sejuk dengan rasa tenggang yang solid, kabupaten yang kian “subur” dengan pembangunan dan ‘kabupaten’ yang berkembang menjadi kabupaten yang jauh lebih baik dan hebat.

Hampir sepuluh tahun Bang In menjadi bupati, dihitung-hitung, baru dua kali saya berkunjung ke rumah Dinas Bupati Agam yang ditempati Bang In. Pertama sewaktu ada acara kegiatan pramuka. Kala itu saya menjadi salah seorang Wakil Ketua Kwarda Pramuka Sumbar saat kepemimpinan Muslim Kasim (alm) menjadi Wagub.

Kunjungan kedua, ketika saya mengajak Bang Alwi Karmena ke Lubukbasung dalam suatu perjalanan jurnalistik. Kemudian Bang Alwi mengajak saya singgah menemui Bang In di rumah dinasnya di Lubukbasung, kampung anak-anak saya.

Ya, hanya dua kali lurus itu saya berkunjung ke rumah dinas beliau.

Saya bertemu Bang In, setahun yang lalu. Tepatnya ketika hari raya Idulfitri. Kami bertemu di rumah Bupati Agam nan di Belakangbalok Bukittinggi. Kala itu saya baru usai berhari raya ke rumah sahabat saya, H Nelson yang tak jauh dari rumah dinas bang In.

Begitulah.

Indra Catri, tanda rindu saya pada beliau, ini malam , hari Selasa tanggal 28 April 2020, tepatnya pukul 23.53 saya menulis tentang beliau.

Mengapa saya teringat Indra Catri malam ini? Mengapa mendadak saya menulis tentang sosoknya?

Ini malam saya baru terbaca postingan facebook Jasman Rizal—konco saya juga ini—nan Kepala Biro Humas Setda Prov Sumbar yang juga diamanahi selaku Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumbar.

Postingan itu berjudul: “ Update Covid 19 di Sumatera Barat, Selasa 28 April 2020, pukul 16.00 Wib”. Jasman menginformasikan penambahan 23 orang lagi warga Sumbar positif terinfeksi Covid-19. Total warga Sumbar terinfeksi covid-19 sampai hari ini adalah 44 orang.

Pada Sabtu 25 April 2020, Jasman di Haluan.com mengabarkan sebanyak 12 Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumbar sudah masuk kategori zona merah lantaran terdapat warganya yang terkonfirmasi positif virus Corona atau Covid-19. Sisanya, 7 kabupaten dan kota masih aman dari virus Corona .

Salah satu, kabupaten yang masih aman dari virus Corona itu adalah Kabupaten Agam yang dipimpin Dr. Ir. H. Indra Catri, MSP Datuak Malako Nan Putiah .

Bagaimana cara Indra Catri sebagai kepala daerah dalam menghadapi bahaya virus Corona?

Saya sengaja tidak langsung bertanya kepada Bang In.Mengapa? Kalau saya bertanya, pasti ada jawaban. Tulisan ini bukan membutuhkan “jawaban-jawaban” langsung, tapi adalah jawaban lapangan.

Bila saya me-WA Bang In atau menghubungi HP beliau, saya yakin, beliau pasti mengangkatnya. Karena saya tahu, Bang In adalah sosok yang tidak sombong. Ia rendah hati. Ia baik. Ia ramah. Ia penyapa. Ia berkepribadian hangat. Dan ia familiar. Wajar saja, bila banyak para pemuka masyarakat, para tokoh, para ulama, para kaum adat, dekat dengan Bang In. Indra Catri itu dekat dengan semua orang.

Ilmu berkawannya tinggi. Indra Catri itu, tak milih-milih kawan. Ia patut dan pantas disebut sebagai pemimpin untuk semua.

Sekali lagi, saya tidak mewawancarai Bang In untuk menulis tulisan ini. Apalagi, tulisan ini bagi saya adalah tulisan “rindu” pada sosok sahabat di masa badai Corona sedang berkisar.

Ya, semua dari jawaban-jawaban itu memaksa saya untuk berselancar di google mencari rekam jejak Agam mengatasi Corona. Saya harus banyak referensi. Data harus banyak dan akurat. Bagaimana saya menulis bila tanpa data?

Sedangkan mengarang fiksi saja, saya tetap butuh data.Tetap butuh referensi.Tetap butuh “bacaan”. Tetap butuh rasa. Apalagi, untuk menulis tulisan “rindu “ini.

Saya memang rindu pada sosok pemimpin yang kehadirannya benar-benar bagai
“Baringin rindang di tangah koto ,ureknyo tampek baselo,batangnyo tampek basanda ,pucuaknyo cawang ka langik ,dahannyo tampek bagantuang ,daunnyo perak suaso, bungonya ambiak ka suntiang ,buahnyo buliah dimakan, tampek bataduah katiko hujan , tampek balinduang katiko paneh”.

Saya melihat dan menyimak, ada pemimpin yang berninik-ninik mamak an badan. Ia merasa kepemimpinannya kepemimpinan ninik mamak, tapi “kemenakan”nya berserakan bak ayam kehilangan induk. Rakyatnya susah, ia pura-pura tuli. Rakyatnya miskin, ia pura-pura buta. Rakyatnya, lumpuh, ia menjauh.

Tapi, Indra Catri tidak begitu. Ia bagi saya adalah “asli” sosok pemimpin ninik mamak.

Ia tahu, bahwa dampak mewabahnya virus corona akan bisa membuat ekonomi rakyat lumpuh, membuat rakyat susah dan memiskinkan rakyat miskin.

Ia tak ingin agaknya rakyatnya sakit dan luka. Kemudian, saya baca di beberapa berita media online, ternyata Pemerintah Kabupaten Agam menyiapkan dan meluncurkan kebijakan pangan Agam menghadapi Covid-19 dengan program beras gratis untuk masyarakat yang masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Lalu saya dengar, dan berita ini viral, ketika seorang nenek-nenek dari Malalak yang menolak pemberian beras dari Pemkab Agam karena merasa belum berhak menerimanya dan menyerahkannya kepada orang yang lebih patut dan pantas untuk menerima bantuan beras.

Di sini, saya menarik nafas panjang.

Ternyata, mungkin begini agaknya; pemimpin yang santun akan melahirkan rakyat yang santun. Pemimpin yang jujur akan melahirkan rakyat yang jujur. Pemimpin yang bertenggang-rasa akan melahirkan rakyat yang solid dalam tenggang-rasa.Pemimpin yang suka membantu akan melahirkan kehidupan rakyat yang saling bantu membantu dan tolong menolong. Pemimpin yang suka bekerja-sama, akan disambut hangat boleh masyarakatnya dengan mendukung segala program-program dari pemimpinnya.

Di sini saya melihat , ternyata adigium berat sama dipikul ringan sama dijinjing, tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum ambun, tarapuang samo hanyuik, tarandam samo basah mekar tumbuhnya di kabupaten ini.

Baru saya paham, pemimpin yang selalu melibatkan rakyatnya dalam pembangunan akan menciptakan kerja sama yang baik dalam masyarakat. Mungkin inilah apa yang disebut dengan “ Untuk Semua” itu.
Kemudian saya dengar, di Agam ada pembagian garam gratis, lalu ada operasi pasar khusus (secara mobile), terus ada penyaluran sayuran , buah-buahan dan bahan pangan lainnya. Kemudian juga ada pula pembagian beras gratis untuk kelompok yang kehilangan penghasilan.

Program Agam menyemai itu, makin berfakta manis rupanya di masa Corona !

Lalu saya berubah pikiran. Pas ketika saya menulis, pada kata “ini”….saya beragak-ragak hendak menelpon Bang In melalui kontak WA-nya. Saya lihat jam telah menunjukkan pukul 1 lewat 10 menit.

Apa Pak Bupati sudah tidur? Tapi sejauh saya mengenal Bang In, beliau adalah pekerja keras,pemikir keras yang “sulit” tidur. Biasanya, orang gila kerja, adatnya patanggang. Tidur baginya cukup 3 jam saja. Asal pulas, bermutu nilai tidurnya, sebanding dengan tidur 8 jam nilainya.

Saya WA, tidak ya…saya WA ya….tidak…iya…tidak…iya!

Pas !
Saya harus me-WA beliau. Diangkat tak diangkat telpon saya melalui WA, tetap akan menjadi warna dalam penulisan “ Rindu untuk semua” ini.

Satu dua…tiga.
Bismillah….klik!
Saya tekan nomor Pak Bupati.

Tut….tut….tut…..

Di layar HP saya tertulis “ Panggilan Ditolak…..”

Saya coba sekali lagi, kalau tak menjawab, mungkin Bang In sedang sibuk atau sedang istirahat.

Tut….tut….tut….

Ha, diterima rupanya !
Tanda diterima, pengaturan detik di WA…mulai bergerak.

“Assalamualaikum Bang !”

“ Waalaikum salam , Pinto . Ba-a kaba? Lah lamo indak batamu. Ba-a kaba anak-anak, sehat?”

“Alhamdulillah, Bang…..”

Dan kami pun mengobrol panjang dalam kehangatan suasana yang tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.

Hampir satu jam lebih kami mengobrol….
Ini rangkuman isi percakapan kami :

“ Kita bersama-sama dengan masyarakat nagari memerangi Corona. Kebijakan pangan yang disalurkan Agam tidak berdiri sendiri tapi melalui 6 jalur. Bila memperhitungkan sumbangan donatur dari banyak pihak dan daerah akan menjadi 6 jalur”, kata bang In dari speaker Hpku yang layarnya sudah retak-retak air.

“Beras dan garam itu bahan dasar. Kita juga ada menyalurkan bahan makanan yang lain. Kita bantu beras dan garam juga diiringi dengan bantuan sayur untuk menyelamatkan petani Agam. Kita punya skema bantuan yang terpadu dan bantuan beras dan garam hanya salah satunya. Kebijakan yang benar itu tidak harus berdiri sendiri tapi memiliki latar pemikiran yang panjang”, ucap bang In.

Saya tahu Bang In sedang menyembunyikan getar keprihatinan, tapi agaknya ia sedang berupaya untuk mengatur getar positif untuk menyampaikan sinyal optimis bahwa dengan bersama-sama kita bisa memutus mata rantai Corona.

Saya dapat merasakan ketenangan nada suara seorang Indra Catri dan kejernihan pikirannya. Saya tak bisa membayangkan sekiranya dalam suasana begini pemimpinnya panik, tentu rakyat akan jauh lebih panik pula lagi.

Sedikitpun saya tak membaca getar panik di frekuensi suara Bang In. Tetap tenang, tetap waspada…dan tak takut berlebih-lebihan.
Tampaknya, Indra Catri tak ingin rakyatnya “lapar” karane “ terkurung” di rumah.
“Penyaluran bantuan di Agam sekarang sudah masuk tahap 3 bulan pertama. Mudahan penyaluran bantuan bulan kedua akan lebih baik lagi”,ujarnya.

Di sini saya dapat membaca, ternyata kebijakan publik tidak sekedar pencitraan murahan yang justru melenyapkan kepercayaan massa.

Kebijakan publik, kebijakan menyentuh, di mana manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang kita pimpin. Agam, begitulah rupanya !
“Kebijakan publik itu harus disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan tidak harus ikut-ikutan dengan kecenderungan sesaat”, ujar Bang In.

Rupanya, Kabupaten Agam sekarang sedang jadi model. Contoh bagi banyak pihak dalam menghadang covid-19 berbasis nagari. Indra Catri melakukan pendekatan kebudayaan. Mendekati para ninik mamak.Mendekati para walinagari.Mendekati para tokoh masyarakat.Mendekati para alim ulama. Semua untuk Agam kompak memerangi Corona.

Kata Pak Bupati kita, pendekatan budaya yang dilakukannya adalah apa yang disebut dengan “tagak basuku mamaga suku,tagak bakampuang mamaga kampuang, tagak banagari mamaga nagari, tagak babangso mamaga bangso”.

“Adat dunsanak mamagar dunsanak, adat berkampung memelihara kampung, adat bersuku menjaga suku, adat bernegara membentengi negara, tegak berbangsa menjaga bangsa. Kita harus menjaga dunsanak kita, kampung kita, nagari kita, negara kita dan bangsa kita. ya, caranya, patuhi segala instruksi pemerintah dalam mengatasi Corona. Kita harus seiya sekata. Harus satu suara untuk memerangi corona. Ingat, tuah sakato, cilako basilang”, ujar Indra Catri yang terus saja bergerak mengingatkan dan membantu masyarakatnya.

Ia minta masyarakatnya untuk terus berikhtiar dan berdoa, serta sabar menghadapi musibah ini. Tetap di rumah.Tetap waspada bukan berarti panik dan takut berlebihan.

“Haniang ulu bicaro, naniang saribu aka, dek saba bana nan datang”, kata Indra Catri Datuak Malako Nan Putiah seraya menerjemahkan artinya, hening itu pangkal bicara, berfikir itu seribu akal, karena sabar kebenaran datang.

Lalu Indra Catri mengatakan, menghdapi fakta pada badai corona ini, kita perlu strategi jitu dan berkelanjutan untuk menghadapi kondisi sulit yang bisa agak lama bisa cepat berlalunya.

“ Bantuan-bantuan sembako yang disalurkan banyak pihak saat ini kemungkinan sebulan ke depan akan mulai reda. Setelah itu kita perlu berjuang keras menyelamatkan perut dan kesehatan warga masyarakat Agam”, ujarnya.

“Sekali lagi, saya sangat berharap dukungan dari semua pihak, khususnya Inyiak-inyiak wali dalam mengawal kampuang, anak, dan kamanakan. Tagak nagari paga nagari. Tagak kampuang paga kampuang. Kita perlu mendukung dan memanfaatkan sepenuhnya kebijakan PSBB Sumbar karena akan sangat membantu Agam menghadang transmisi interegional penyebaran cocid19, memperkecil peluang adanya pendatang yang mengantarkan corona ke Agam. Jika seandainya ketangguhan nagari tidak goyah dalam ‘mengawal nagari’ insha Allah, transmisi penyebaran covic19 di tingkat lokal (nagari dan jorong) bisa ditekan mendekakati zero”, ujar Bang In.

Saya lihat, jam sudah menunjukkan pukul 2.13.Sebentar lagi, jadual sahur akan masuk. Tapi, saya tak mampu memotong pembicaraan Bang In. Saya hanya khawatir, nanti Pak Bupati “terpancing” pula bertanggang dengan mengobrol separak-siang buta ini. Saya khawatir. Rasa berdosa saya tiba, kalau Pak Bupati sakit hanya karena ulah berwawancara melalui HP dengan saya. Kalau Pak Bupati sakit, kasihan rakyat Agam.

Tapi, saya tak berani memutus pembicaraan. Malam ini seperi malam curahan pikiran dan pelaksanaan gagasan dari seorang Bupati bernama Indra Catri yang agaknya tak menghiraukan lelah menyergap batang tubuhnya.

“ Dan…dengan demikian maka sebagian besar tanggung jawab berat kita sudah berkurang. Selanjutnya kita bisa fokus dan berjuang keras menyelamatkan perut dan kegiatan usaha masyarakat kita…”ujar Indra Catri.

Pasar adalah pusat keramaian. Tempat di mana virus Corona memiliki ruang lapang. Bagaimana kebijakan Pak Bupati atas pasar tradisional?
“Khusus pasar pasar tradisional, dijaga ketat bana minimal di masa PSBB. Adonyo tasadio tampek tampek cuci tangan. Semua pengunjung wajib pakai masker. Para pedagang K5 jaga jarak, adanya petugas halo halo. …Kita sampaikan ke Pak Gubernur dan Wakil Gubernur, tanpa penindakan terhadap kondisi tersebut, PSBB tidak akan bermanfaat besar”, kata Bang In.

Bang In, berujar, Pemerintah sudah seharusnya hadir memerintahkan rakyat untuk tertip dan disiplin. Tidak cukup lagi sekedar menghimbau dan membujuk.

“ Mari kita berikhtiar dan berdoa. Kita yakin, keadaan ini Insha Allah akan kembali pulih. Kita yakin, bumi akan kembali ‘sedamai’ dan ‘sesejuk’ dulu lagi. Ya Allah, angkat virus corona ini lekas dari muka bumiMu ini…aamiin !” doa bang In yang sama-sama kita amini.

Saya lihat hari sudah pukul setengah tiga.

Asbak saya sudah penuh dengan punting rokok. Kopi saya sudah yang ketiga gelas sejak berbuka tadi.

Di akhir pembicaraan, bang In menasihati saya: “ Pinto, jaga anak bini dan keluarga. Jangan keluar rumah kalau tak perlu-perlu amat. Selalu pakai masker. Jaga jarak. Dan ini yang lebih penting…jangan pernah meninggalkan solat !”

Saya tutup tulisan rindu ini. Saya bergegas ke kamar mandi. Ambil wudhu, solat Isya dan solat tarwih…!

Bukittinggi di 3.05 pada 29 April 2020

Tags

Related Articles

1 thought on “SURAT RINDU UNTUK UDA INDRA CATRI DI TENGAH SIKSA BADAI CORONA…!”

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, semoga Pak Pinto selalu dalam lindungan Allah. Aamiin.
    Membaca goresan kisah Pak Pinto dengan Bapak Indra Catri, sangat menarik dan menggelitik keingin tahuan saya terhadap beliau, walaupun saya sebenarnya cukup mengenal beliau, karena beliau Bupati kami di Agam. Bila berbicara tentang Bapak Indra Catri memang tidak habis habisnya, beliau ramah, bersahaja dan supel dalam menjalin silaturahmi, kadangkala kalau sudah dilapangan kita sering lupa bahwa beliau adalah Bupati Agam, Pemimpin Agam, mengapa demikian …karena Bapak Indra Catri sangat memahami kultur masyarakatnya, dia membaur dan menyatu dengan masyarakat, paham dg keinginan masyarakat yang dia kunjungi, dia bagi masyarakat senbagai Niniak Mamak, Bapak , sahabat dan saudara, apalagi dengan petani. Sebagai Kepala Daerah sudah banyak prestasi yang dia raih, dan banyak inovasi yang dia lakukan utk memajukan Agam, khususnya dalam pengembangan SDM dan SDA.
    Sebagai informasi , hanya bagarah kiranya Bapak Bupati bisa hadir dikampung kami Sariak Kecamatan Sungai Pua untuk Panen Cabe Rawit dan Jeruk serta Wortel dan sayuran lainya. Alhamdulillah hanya jelang satu hari beliau hadir , keladang dikaki gunung Merapi, membaur dengan petani, memetik Cabe Rawit, Jeruk dan Wortel, dan beliau tak segan segan duduak Jo petani sama membersihkan ( mencuci ) wortel . Indak Sagan bagainyo tangannyo baluluak. Dia memberikan pengarahan , motifasi dan nasehat bagaimana menjaga dan memelihara potensi Alam agar hasil pertanian dan ladang tetap baik dan menjadi tahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Saya dan tokoh masyarakat ragu, apakah beliau mau melihat Lokasi Kebun Jeruk yang jaraknya lebih kurang 1,5 km dari ladang Cabe Rawit , yang letaknya sudah dikaki Gunung Marapi. Alhamdulillah beliau bersedia dan bersemangat mengunjunginya.
    Semangat dan kepedulian inilah suatu nilai yang sangat sangat kami kagumi dan hormati, dan kami memang gamang karena masa Jabatannya sebagai Bupati Agam akan berakhir, dan tentu saja harapan kami, beliau masih mau mengorbankan tenaga, pikiran dan hatinya untuk tetap menjadi Pemimpin dimasa yang akan datang, ditempat lain yang lebih hebat dari di Agam, karena untuk di Agam tak mungkin lagi karena Bapak Indara Catri sudah jadi Bupati didua periode.
    Demikian cuplikan kisah kami masyarakat Petani di Nagari Sariak Kec.Sungai Pua Kab.Agam tentang Bapak Bupati Agam yang energik ini, semoga beliau dan kita semua dalam lindungan Allah dan mudah2an masyarakat Kabupaten Agam tidak terpapar Covid 19, Aamiin.
    Wali Nagari Sariak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close