KOlomPINTOSeni dan Budaya

CERPEN ESAI DENNY JA ALIRAN BARU PROSA INDONESIA

Sastrawan adalah Arsitek Kebudayaan !

 

Catatan: Pinto Janir

Bilamana virus sastra mewabah seperti corona, jangan salahkan Denny JA. Kini, dari sabang sampai merauke, puisi esai menjalar menebarkan virus kreativitas ke tengah anak bangsa penyemarak sastra kita.

Pertama kali, Denny JA di japri mengirim ke WA saya sebuah cerpen yang berjudul “Lebaran Online”. Di bawahnya tertulis “cerpen esai” Denny JA. Saya mulai terkejut. Cerpen esai? Lalu saya segera membacanya. Setelah membaca cerpen itu, saya jawab japri Denny JA: “Wah ini keren…Saya suka….!”

Saya suka pada peristiwa baru di ruang sastra kita. Sastra harus berkembang. Ia tak boleh statis. Tak boleh jalan di tempat. Makanya sastra adalah milik orang berpikir
!

Kemudian bertubi-tubi peluru aksara saya memenuhi ruang japri wa Denny JA.

Saya tulis begini :

“Cerpen esai adalah fiksi dalam cerita pendek berdasar fakta kekinian.

Inilah cerpen yang mencatat sejarah.

Keren. Tidak semua penyair bisa atau pandai menulis prosa dalam bentuk cerpen.

Tidak semua penulis cerpen dan novel yang pandai menulis puisi.

Beruntunglah Denny JA, sastrawan iya, penyair iya yang pandai menulis cerpen dan puisi, serta membawa genre baru dalam cerpen, yakni cerpen esai…prosa esai ”

Selanjutnya ini malam saya buka dua jendela ruangan ini lebar-lebar. Barangkali, karena ini bukan puisi, tak ada bulan menggantung di atas langit sana. Yang ada adalah hawa dingin kota Bukittinggi yang menyejukkan pikiran saya untuk sejenak melupakan corona yang menyiksa.

Setelah puisi mencatat sejarah melalui puisi esai, kini cerpen mencatat sejarah melalui cerpen esai…

Baiklah, ini malam, saya ingin berliterasi tentang Denny JA.

SASTRAWAN
ARSITEK
KEBUDAYAAN

Itulah takdir dunia yang dipenuhi oleh manusia yang tak pernah berhenti untuk berpikir. Selagi pikiran tak pernah berhenti berpikir, sastra tak akan pernah mati. Sastra adalah kehidupan. Jiwanya, hati dan pikiran. Raganya, lisan dan tulisan. Ia akan terus berkembang dan melahirkan keturunan-keturunan serta membentuk rumpun baru di tengah peradaban kita.

Sastra adalah pengetahuan bagi orang yang tahu. Sastra adalah pengertian bagi orang yang mengerti. Sastra adalah pemahaman bagi orang yang paham. Sastra adalah kebudayaan bagi orang yang berbudaya.

Sastrawan adalah arsitek kebudayaan !

Pada sebuah buku yang diterbitkan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, nama Denny JA masuk dalam daftar 33 tokoh sastra berpengaruh di Indonesia. Daftar tersebut disusun Tim 8 berdasarkan tokoh-tokoh sejak tahun 1900 hingga kini. Anggota Tim 8 adalah Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah.

Adatnya dunia, seperti biasa, kalau ada datang dan tiba sesuatu yang baru selalu mengundang pro dan kontra. Sebagian menolak, sebagian menerima. Kajian “tolak” dan “terima” adalah ekspresi lain dari “keadilan” dunia. Selagi kita tak menanggapinya dengan rasa benci dan sayang yang berlebihan ia sepantun neraca pada kehidupan kita. Itu biasa. Tanda manusia berpikir, menyimak dan mendengar.

Saya berpikir.Lalu, saya menyimak karyanya dan saya mendengar nama Denny JA. Bila kita menolak karena namanya tak dikenal (selama ini) di ruang sastra karena ia lebih dikenal sebagai seorang konsultan politik, bagi saya itu adalah “kecelakaan” memandang.

DENNY JA SASTRAWAN “DIAM”
DI RUANG PIKIRAN YANG SUNYI

Bila kita tahu, tak tertutup kemungkinan, betapa banyaknya “sastrawan” diam di ruang sunyi pada pelosok negeri yang karya sastranya tersembunyi yang hanya terbuka setelah bertahun-tahun kematiannya karena ruang masa menemukan “kuncinya”. Hingga akhirnya, pikirannya yang melahirkan karya itu menjadi “doktrin” di suatu masa di saat mana ia sudah tiada.

Ah, Denny JA hanya dikenal sebagai konsultan politik?
Politik adalah pelaksanaan dari ranting literasi. Sastra adalah seniman.Seniman belum tentu sastrawan.

Tanpa berpolitik pun, sadar atau tidak sadar, seniman sudah berpolitik praktis ketika karyanya mengaduk-aduk dan mempengaruhi perasaan. Membuat orang menangis.Membuat orang gembira. Membuat orang bersemangat. Membuat orang berharapan. Membuat orang berheroik. Membuat orang mencari. Membuat orang berkasih sayang…dan kemampuan membuat orang seperti itu adalah “kajian” lain di ruang politik yang luas.

Jangan heran, bila banyak pemimpin dunia yang berlatar belakang seni membawa perubahan “berpikir” bagi orang banyak. Pengaruhnya besar.

Apalagi bila senimannya adalah seniman sastra, maka ia akan muncul menjadi seorang politisi yang makin kharismatik. Jangan pula heran kalau sastrawan memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan kita yang lapang. Kita tidak boleh pula heran, bila kekuasaan cendrung ‘menjauhi’ sastrawan…karena pikirannya yang cendrung “melawan”.

Menolak Denny JA sebagai salah seorang tokoh sastra berpengaruh di Indonesia karena ia selama ini “tak dikenal-kenal amat” di rumah gadang sastra seperti orang mengenal Rendra, Chairil Anwar dan lain-lainnya, bagi saya, itu bukanlah sebuah keadilan. Menolak Denny JA di dunia sastra kita, itu bukan sebuah “hak”. Hak pengakuan adalah hak zaman. Biarkan masa “menilai”nya.

Bagi saya, ini adalah literasi sastra kita.

Sastra itu luas alamnya lapang. Ia bagai cakrawala yang terhampar dalam pikiran sejauh pandang.

Sastra bukan hanya milik para sastrawan.

Bukan hanya milik penyair.

Bukan hanya milik wartawan.

Bukan hanya milik pustakawan.
Bukan hanya milik sejarawan.

Ia adalah milik insan yang melahirkan pikiran dan mengeksekusi apa yang ia pikirkan melalui media lisan dan tulisan.

Sastra kelas orang berlapang-lapang bukan kelas orang bersempit-sempit.

Sastra kelas elite pikiran berkelas. Ia tak saja menghidupkan 5 pancaindera tapi mampu menyentuh indra keenam, bahkan bersayap ke indera ke- 7.

Mata sastra bukan sekedar mata untuk melihat, tapi untuk memandang yang kadang tak tampak.
Telinga sastra melatih telinga bukan sekedar untuk mendengar tapi untuk menyimak.

Kaki sastra bukan sekedar kaki untuk melangkah, tapi untuk mencatat sampai ke tujuan dengan tepat.

Tangan sastra bukan hanya sekedar menggunakan tangan untuk menggenggam tapi adalah untuk menjangkau dan meraih.

Sastra adalah ruang kepandaian yang adil. Keadilannya, keadilan berpikir dalam kemerdekaan yang beradab.

Adatnya cerdas yang beradab.

Lalu aku bertanya di sela-sela meruyaknya virus corona.

Mengapa kita tidak berusaha mengkaji ke hulu? Mengapa kita enggan melihat dan memandang dahulu sebelum bermuara pada pendapat yang kadangkala bisa saja keliru.

Ini adalah literasi kita.
Bagiku literasi itu hulu. Ia mengalir ke sungai sastra. Menjelang sampai ke muara, kalau airnya besar dan deras sekali, ia meruntuhkan tepian lapuk. Sebagian membentuk anak-anak sungai baru. Sebagian dari anak-anak sungai baru itu ada yang sampai ke muara dan sebagian membuat genangan atau telaga. Bagi pikiran yang sampai ke muara, laut adalah cakrawala baginya.

Kapalnya besar, pulaunya jauh !
Begitulah…

Sebelum aku berkata-kata lebih jauh, kupetikkan dulu sajak lamaku bertahun lalu.

Sajak untuk Denny JA

Kau pancing aku berkata-kata
Sementara…. aku mulai
menyangsikan
makna di tebing ragu
kau suruh aku berseru
dan sepipun menderu
pada diam aku berguru
engkaukah itu?
anak badai dari seberang benua sana
di mana bayang-bayang dan mimpi ingin terlaksana
kusimak anomali cuaca
karena mentari pun telah berdusta
cahaya dan pandangan telah menjadi fatamorgana
permisi, aku ingin keluar dari logika
sepertinya jubahmu berkibar di cakrawala
mencincang-cincang tebaran mega
segumpal jatuh di tanganku
segumpal lagi jatuh di sana
di sebuah negeri yang tak tercantum di peta
kau ada di kapalku
aku di kapalmu
saudaraku
kirimkan aku undangan melangkah bersamamu
bergandeng tangan
lalu kaubisikkan padaku bait-bait sajakmu
tentang saputangan tangan fang yin
atau romi dan yuli dari cikeusik
kupetik sebait lirikmu :
“kisah duka sudah dituntaskan bagi manusia
layar agung sudah diturunkan dari atas sana “

sabda yang tak membuat ragu
tak kukemas dalam saku
namun kusimpan dalam qalbu….

RUMPUN SASTRA BARU ITU
BERNAMA CERPEN ESAI

Sejak beberapa hari yang lalu, melalui ‘japri’ di wa, Denny Ja berkirim cerpen (cerita pendek kepada saya) . Yang membuat saya terpana, setelah ada puisi esai yang dibidani Denny JA, kini muncul sesuatu yang baru di belantara sastra kita. Namanya Cerpen Esai !

Sastra adalah salah satu tanda manusia berpikir dalam dimensi kebudayaan. Ia adalah seni dalam berbahasa. Ia piawai menjaring kata menitipkan makna.

Dalam melahirkan seni bahasa, Denny JA adalah insan yang kreatif. Ia lasak mengemasi pikirannya dan kemudian pikirannya itu memaksa orang untuk bersepakat atau tidak bersepakat menciptakan definisi.

Denny JA berkarya, orang lain mencari definisi. Adatya orang cerdas adalah menciptakan dan mendirikan panggung. Lalu, orang lain mengisinya. Sebagian ada yang suka.Sebagian melihat dari kejauhan saja. Sebagian berada di bawah, sebagian berada di atas panggung. Sebagian bertepuk tangan, sebagian mencerca.

Denny JA adalah fakta di atas panggung dunia sastra kita.

Kalaupun ada suara keras yang menolak kehadiran cerpen esai, itu tidak akan pernah menghambat jalan kemajuan dunia cerpen kita yang berlabel esai di belakangnya.

Cerpen esai akan menjadi “kisah” fakta bukan kisah “nyata”. Unik nian memang. Kisah nyata seperti “oh mama, oh papa” bukanlah fiksi. Ia cerita yang jujur yang tak membutuhkan kehadiran imajinasi. Ia tak lebih dari catatan harian.

Berbeda dengan Cerpen Esai.

Cerpen Esai Denny JA adalah pengolahan imajinasi pengarang terhadap fakta yang terjadi. Pada Cerpen Esai, fakta yang terjadi tak hanya sebagai sumber inspirasi tapi ia adalah sumber catatan kaki. Catatan kaki menjadi contoh. Ia contoh sebuah peristiwa yang mirip terjadi di cerpen esai. Faktanya di dunia nyata, fiksinya di dunia cerpen esai. Berbeda dengan cerpen biasa yang pengandaian seperti klasikal “ cermin dibuat untuk mengaca”.

Bagi saya, cerpen esai Denny JA pantas dan patut menjadi ‘lembaga’ baru di ruang sastra kita. Ia sah dan layak disebut sebagai aliran baru atau genre sastra di ranting prosa.

Saya amati beberapa cerpen esai Denny JA. Dapat saya menyimpulkan bahwa cerpen esai adalah seni bahasa dalam cerita dengan bahasa bertutur yang sangat komunikatif. Ia membangun ruang dan suasana sehingga pembaca seakan terseret di ruang fakta. Saya menyimak, cerpen esai ternyata menjadi media untuk mengekspresikan batin sebuah realitas.

Ketika seorang pengarang luka, kecewa, senang, bahagian, kelat, pahit, manis, terharap-harap pada harapan yang barangkali saja asap, maka untuk memaklumatkan rasa yang membathin itu maka ia mengambil ruang sastra di kamar cerpen esai.

Apalagi pada saat terkini, baik cerpen esai maupun puisi esai adalah

Kita mengenal ada enam jenis prosa dalam dunia kesusasteraan Indonesia. Yakni; prosa lama, prosa baru, prosa fiksi, prosa nonfiksi, prosa anak dan novel remaja. Puisi Esai dan Cerpen Esai, menurut saya ia menjadi berdiri sendiri dan termasuk jenis prosa baru. Saya namakan, prosa yang dibidani Denny JA ini adalah “Prosa Kekinian”.

Bila jargonnya puisi esai adalah “yang bukan penyair boleh ambil bagian” saya kira pada cerpen esai “yang bukan sastrawan akan sulit mengambil bagian”.

Menulis cerpen dengan menulis puisi itu berbeda. Penulis cerpen atau penulis novel, pasti bisa menulis puisi. Penulis puisi belum tentu bisa menulis cerpen. Penulis puisi, penyair namanya. Penulis prosa dalam bentuk cerpen, kerap kita sebut cerpenis, atau novelis bagi penulis novel. Baik cerpenis ataupun penulis, belum tentu pula dapat disebut sebagai sastrawan. Sastrawan lebih cendrung kepada diksi yang klassik bukan “ngepop”.

Menurut saya pengakuan mewah di ruang sastra kita terhadap pekarya sastra adalah pujangga. Ia penyair.Ia sastrawan. Ia pemikir. Karangannya mendekati dunia filsafat. Menjadi doktrin dan menjadi ajaran di ruang kebudayaan kita di tengah peradaban masa.

Bagaimana dengan cerpen esai?

Cerpen esai adalah salah satu jalan sastra menuju menjadi sastrawan.
Merangkum kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi cerita tidaklah sesederhana menyusun kata menjadi baris dan baris menjadi puisi.

Namun demikian saya yakin, cerpen esai akan menjadi aliran baru dalam dunia prosa kita.
Caranya tetap memberi kesempatan kepada yang bukan pengarang boleh ambil bagian dengan catatan dibutuhkan para editor yang handal sehingga melahirkan cerpen-cerpen esai yang memikat dan menawan.

Editornya memang harus orang-orang yang bergelut dan berairmandi dengan dunia percerpenan. Sehebat apapun penyair, kalau ia bukan seorang ahli cerpen, akan sulit juga menjadi editor di cerpen esai.

Begitulah, beruntunglah Denny JA yang hidupnya melahirkan pikiran-pikiran yang memberi pengaruh kepada ruang sastra kita. Baru saya tahu, ternyata Denny JA adalah sumur dalam bermata air yang merupakan senandung indah para penimba. Ia bukan sumur tanpa mata air yang merupakan airmata bagi para penimba.

Jangan sampai keliru dan sesat memilih guru .

Selamat ada Cerpen Esai , semoga kau akan menjadi ‘pandemi sastra’ yang datang bagai rinai di musim kering !

Salam hormat untuk Denny JA, pikiran yang melahirkannya…

Saya yakin, cerpen esai adalah sumbangsih sastra terhadap anak cucu kita nanti dalam membaca perjalanan dunia di masa lama.

Salam Pinto Janir
Bukittinggi 1.04 pada 21 April 2020

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close