oleh

LALU… KIRA-KIRA, SIAPA GUBERNUR KITA NANTI?

Catatan Pinto Janir (jurnalis/budayawan)

Baiknya saya tidak usah mengatasnamakan suara orang banyak. Pada saat Minggu siang seterang ini —walau kopi yang saya bikin tadi pagi sudah agak dingin—namun hati dan pikiran saya tetap  hangat. Ia sehangat nama-nama bakal calon gubernur kita yang senantiasa hidup dalam pikiran dan hati kita.

Sori, mungkin sahabat tidak mendengar dan tidak merasakan betapa dalamnya hirupan rokok saya saat ini dan betapa pelannya saya melepaskan asap di ruang kerja ini. Di sini saya sendiri. Niscaya, tak akan ada yang teracuni kena asap rokok saya.

Bagi saya, seberbahaya-bahaya asap rokok tentu jauh lebih berbahaya “asap” pikiran. Seburuk-buruk asap rokok, paling-paling ia mengumuhi dan meracuni ruang dada. Tapi bagaimana dengan asap pikiran? Bagi saya pikiran adalah energi. Ia suluh dalam tiap langkah kehidupan  kita.

Awan yang menutup bulan akan mengelamkan, awan yang menutup matahari akan meneduhkan. Pikiran penerang kelam dan pikiran penyejuk keteduhan.

Kalau pikiran memenuhi ruang masa, maka ia menjadi “sastra”. Ia menjadi doktrin. Ia menjadi ajaran. Ia menjadi keniscayaan untuk sebuah kenisbian.

Saya ini hari hanya berniat menuliskan apa yang saya pikirkan. Tak ada niat saya untuk menyansam pikiran di ruang massa di bilik lain.

Biarlah imajinasi politik ini menjadi entah saja. Tapi bukan entah apa. Entah tarian.Entah dendangan. Entah gerakan. Entah senandung. Entah puisi. Biarkan  ia  tetap menjadi entah, namun bukan entah yang entahlah.

Entah mengapa, sewaktu saya menuliskan ini—entah nan pertama yang ada dalam imajinasi saya adalah sosok Mulyadi lalu bayangan Fakhrizal yang melintas di ruang pangana.

 

Ayo, kita baca !

Mulyadi ketua DPD Demokrat Sumbar. Mulyadi terpilih jadi ketua dengan aklamasi. Tak ada pungutan suara. Yang ada adalah kesepakatan rasa. Dengan kekuatan rasa, Mulyadi terpilih menjadi seorang Ketua DPD Demokrat.

Perolehan kursi Demokrat di DPRD Sumbar periode 2019-2024 adalah 10 kursi. Partai ini mengantarkan dua kadernya ke kursi DPR RI. Untuk Dapil 1, ia mengantarkan Darizal Basir dan untuk Dapil 2 Sumbar ia mengantarkan Mulyadi untuk kesekian kalinya. Mulyadi pernah tercatat sebagai peraih suara terbanyak bagi anggota DPR RI asal Sumbar. Kuat nian suara dan dukungan untuk Mulyadi.

10 suara Partai Demokrat belum memenuhi syarat untuk mengantarkan sendiri calon gubernurnya. Perlu beriya-iya-bekerjasama atau berkoalisi dengan partai lain karena syarat minimal mengajukan calon gubernur 13 kursi DPRD Sumbar.

Sampai di sini kita yakini, tetulah DPD Demokrat akan mengusung Mulyadi menjadi calon gubernur Sumbar.

Lalu dengan partai apa Demokrat berkoalisi?

Politik itu dinamis. Ia tidak beku. Tidak pula membatu. Ia mencair seiring ruang sejalan waktu berputar.

Untuk mengantarkan kadernya menjadi calon gubernur, Demokrat hanya butuh 3 kursi tambahan.

Tak ada yang tak mungkin.Segalanya serba mungkin. Mungkin saja Demokrat akan berkoalisi dengan PDIP (3 kursi) atau dengan PKB (3 kursi) atau juga dengan PPP (4 kursi). Kalau Demokrat berkoalisi dengan PKB, maka pasangan terdeklarasi tentulah Mulyadi-Febby Datuk Bangso. Mungkin juga PKB menyepakati pasangan Mulyadi-Shadiq.

Bila Demokrat berseiya dengan PAN, mungkin saja PAN mengusulkan Ali Mukhni menjadi calon wakilnya. Ia menjadi Mulyadi-Mukhni. Bisa saja muncul kembali nama Mulyadi-Shadiq.

Sekarang ayo kita ke Gerindra.

Gerindra memiliki 14 kursi di DPRD Sumbar. Tanpa perlu berkoalisi, partai ini bisa mengusung calonnya sendiri.

Kalau itu terjadi, kira-kira siapa yang akan diusung Gerindra?

Namanya saja berkira-kira. Ini hanya perkiraan saya. Perkiraan mana yang mungkin saja juga banyak dalam ruang kira-kira publik. Kira-kira Gerindra akan mengusung ketuanya, yakni Nasrul Abit yang kini wagub Sumbar. Kira-kira mungkin saja Gerindra akan mengusung kadernya, Edriana. Bahkan bisa saja partai ini “menugaskan” seorang Andre Rosiade.

Dalam politik kepartaian, sulit kader “menolak” perintah partai !

Kemudian, mari kita ke PKS. Partai ini meraih 10 kursi DPRD Sumbar.
Di PKS ada dua nama yang sangat populer. Pertama Riza Falepi (Walikota Payakumbuh) dan Mahyeldi (Walikota Padang). Apakah partai ini akan memberi amanah pada Riza atau Mahyeldi? Riza walikota yang dinilai sangat berhasil membangun kotanya. Pertumbuhan Ekonomi kota Payakumbuh di atas rata-rata nasional, yakni 6,8%.

Mahyeldi juga berhasil mempercantik wajah kota Padang. Lihatlah, trotoar dibenahi. Lampu jalan dipercantik bak lampu taman. Di trotoar ada kursi untuk bersantai diri bagi warga kota.
Apakah Riza Falepi atau Mahyeldi?

Atau bisa saja PKS berkoalisi dengan Gerindra atau Demokrat. Bila dengan dua partai ini, besar kemungkinan PKS apakah akan beralah untuk menjadi nomor 2. Setahu kita, tradisi PKS adalah tradisi nomor 1.

Seandainya Gerindra mengajukan nama Nasrul Abit, bisa jadi akan muncul pasangan Nasrul Abit dan Riza atau Nasrul Abit dan Mahyeldi.

Bila misalnya Gerindra mengusung Edriana, bisa jadi Gerindra baralah menjadi wakil. Bisa terbentuk pasangan Riza-Edriana ataua Mahyeldi Edriana.

Kalau Partai Gerindra ‘menunjuk’ Andre Rosiade dan bila Gerindra berkoalisi dengan PAN atau PKB maka yang menjadi adalah Andre-Mukhni atau Andre-Febby.

Bagaimana kalau misalnya PKS berkoalisi dengan PKB?

Mungkin tercipta pasangan Riza – Febby atau Mahyeldi–Febby.
Bagaimana dengan jalur perseorangan?

Nama yang tak kalah populernya di ruang massa kita adalah Fakhrizal mantan Kapolda Sumbar. Fakhrizal dikenal sebagai polisi ninik mamak. Ia sosok yang santun. Ramah. Rendah hati. Ia cerdas. Dan sosok yang taat beribadah. Wajar saja bila Fakhrizal disayang banyak orang.

Lalu dengan siapa Fakhrizal berpasangan?

Bisa dipastikan, Fakhrizal akan menggandeng Genius Umar. Genius Umar walikota Pariaman. Pribadinya hangat. Bersahaja. Cerdas. Sigap. Taat. Pandai berkawan dan memiliki pergaulan luas di tingkat pusat. Ia Walikota yang membawa kota pariaman menjadi kota terkemuka dalam etalase pembangunan kita.

Genius Umar memiliki links kelas dunia. Ia pelobi cerdas. Kemampuan diplomasi dan lobinya bagus. Baru-baru ini Genius Umar terpilih sebagai Co Presiden Tourism Promotion Organization (TPO) Se-Asia Pasific. TPO merupakan organisasi internasional yang didirikan pada tahun 2002 dengan restu KTT Kota Asia-Pasifik ke-5. TPO sendiri berfungsi sebagai jaringan antar kota, mempromosikan pertukaran dan pengembangan industri pariwisata di antara kota-kota besar di kawasan Asia Pasifik.Ia membawa pikiran Green Tourism Concept dan Pemberdayaan Masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kepariwisataan yang berdampak meningkatkan kesejateraan masyarakat.

Kita tahu, Sumatera Barat adalah nagari bak sepotong surga yang terlempar ke dunia. Devisa yang tak pernah kering adalah dunia industri kepariwisataan. Kita butuh pemimpin yang paham budaya, paham wisata, paham pertanian dan paham ruang pembangunan spiritual.

Fakhrizal – Genius adalah pasangan yang arif dan bijaksana berlandas kepahaman sosial, budaya, pariwisata, agama, pertanian dan pendidikan.

Pasangan inilah yang akan menjadi ‘rival terberat’ bagi calon gubernur sekuat Mulyadi.
Baiklah, izinkan saya merokok agak sebatang lurus saja dulu.

 

Terbetik pula kabar berita tentang bisa saja Golkar (8 kursi), PPP (4 kursi), NasDem (3 kursi) , PDI-P ( 3 kursi)  dan PKB ( 3 kursi)  berkoalisi. Akan muncul koalisi besar dengan 21 kursi DPRD Sumbar. Misal Golkar berkoalisi dengan partai lain, maka koalisi PPP,Nasdem, PDIP dan PKB jumlah perolehan kursinya memenuhi syarat untuk mengajukan calon gubernur dan wakil gubernur yakni 13 kursi.

 

Saya berkira-kira, koalisi ini bisa memunculkan nama Shadiq Pasadiqoe.

 

Saya yakin, Golkar yang memiliki 8 kursi tentu akan memunculkan nama “calon”. Setidaknya, sangat wajar bila Golkar mengajukan nama calon untuk jadi calon wakil gubernur.

 

Makin asik…

Bila begitu adanya…..
Biarkan saya membuka tirai jendela ini agar saya dapat memandang cakrawala.
Biarkan saya bermenung agak seperhisapan saja.
Ya, sudah.
Tak dapat diagak. Saya tak dapat berkonklusi menutup tulisan ini.
Entah mengapa, yang lahir justru pertanyaan.
Mulyadi dengan pasangan “X” atau Fakhrizal- Genius-kah yang jadi Gubernur Sumbar ?
Selamat berkira-kira.
Mari bergembira. Berpolitik tidak harus dengan gaduh !
Saya yakin, Pilkada kita tahun ini adalah Pilkada paling berdunsanak.

Padang 8 Desember 2019/Pinto Janir

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed