oleh

NOFI CANDRA JADI CALON  GUBERNUR ATAU JADI  BUPATI?  

IA PEJUANG PETANI SEJATI…!

Catatan: Pinto Janir (jurnalis/budayawan)

 

JARRAKPOS—  Kita sempat bertanya, mengapa Nofi Candra (NC)  tidak mencalonkan diri lagi di DPD pada pemilu yang baru lalu? Padahal, kalau ditakar-takar benar melihat perolehan suaranya di tahun 2014, rasanya tiket menuju kursi DPD tak sulit-sulit amat diraih NC.

 

Sebelum pertanyaan di atas terjawab, bagaimana kalau kita sedikit berliterasi tentang NC? Tentang bagaimana NC dan tentang “siapa” NC.

 

Baiklah, mari kita beriwayat. Riwayat ini saya himpun dari beberapa insan yang mengenal NC. Saya menyimaknya. Saya mendengarnya dengan seksama. Sambil menyimak dan mendengar kisah dalam narasi tentang NC, imajinasi saya terseret di tiap aksara. Tiap kata yang sampai, bayangan saya mengemuka. Ia menjelma menjadi samudera seperti cakrawala seorang sunyi.

 

SANG AYAH YANG INSPIRATIF

 

Ayah NC namanya H Syukri. Beliau tak tamat SD. Agaknya, ruang belajar H Syukri adalah alam. Ya, alam takambang menjadi guru baginya. Ia gemar melihat. Suka menyimak. Terbiasa mendengar. Muara dari apa yang ia lihat, apa yang ia dengar dan apa yang ia simak, adalah ruang  observasinya untuk menyimpulkan sesuatu.

 

Sang ayah sungguh sangat rajin membaca. Yang tertulis ia baca secara tersurat. Yang tersirat ia baca denga rasa. Ia juga seorang yang dikenal tak sudi membuang waktu dengan hal-hal yang tak bermanfaat. Jadilah H Syukri seorang intelektual yang masak di alam takambang menjadi guru. Ia seorang otodidak sejati.

 

Ayah NC seorang petani tulen. Ia seorang yang tekun bertanam. Alam pikiran sang ayah adalah alam pertanian. Sang ayah bertanam jagung. Tiap jagung tumbuh, ia seleksi mana yang bagus dan mana yang tidak bagus. Yang bagus ia kembangkankan. Bertahun-tahun ia menyeleksi bibit jagung.  Suatu hari datang seorang ahli tani. Sang ahli terkejut. Karena, apa yang dilakukan H Syukri dikenal dalam teknologi pertanian dengan pemuliaan tanaman atau pembudidayaan bibit unggul.

 

Pada saat itulah dinyatakan bahwa sang ayah telah menemukan salah satu varitas bibit unggul jagung Hibrida

 

Begitu menemukan  bibit unggul jagung Hibrida, H Syukri bersama anaknya NC merintis pendirian perusahaan yang bergerak dalam produksi benih unggul jagung Hibrida Ia dirikan usaha bernama CNM, akronim dari Citra Nusantara Mandiri.

 

Seiring waktu berjalan, CNM menjadi produsen benih termasuk besar di Indonesia. Biasanya, perusahaan sejenis banyak dimilki oleh pihak asing (PMA) hanya sedikit saja yang dimiliki pribumi. Karyawannya mencapai 1000 orang. Produksi benihnya mencapai 4 ribu ton setahun.

 

Walau perusahaan ini berkembang terus dan terhitung cukup besar, namun pengerjaannya tetap dilakukan secara manual. Kalau dihitung-hitung CNM sangat mampu membeli peralatan teknologi canggih. Dengan mesin bisa saja pengeringan lebih cepat. Sangat mampu membeli mesin pipil.

 

H Syukri khawatir, kalau ia membeli mesin, tentu tenaga kerja akan berkurang. Dengan begitu, akan banyak orang kehilangan pekerjaan. H Syukri enggan ‘memecat’ karyawannya karena tergusur “mesin”. Walaupun dianggap tak efisien, H Syukri tak pernah takut dan gamang merugi.

 

“ Rezeki urusan Allah. Urusan kita hanya berikhtiar dan bekerja sungguh-sungguh”, kata beliau suatu ketika.

 

Kalau dipikir-pikir, masa tanam jagung tidaklah serentak. Kadangkala, banyak karyawannya yang justru tidak “mendapat” jatah kerja. Bukan karena pemalas. Tapi, karena pekerja banyak yang dikerjakan sedikit.

 

Walau begitu, urusan gaji karyawan tetap dibayar penuh oleh H Syukri. Tak pernah dilakukan pemotongan.

 

Bagi H Syukri, berbisnis tidak semata mengutamakan keuntungan besar. Walau menjadi seorang pengusaha sukses, H Syukri dan NC bukan tipikal “kapitalis”. Ia lebih terkesan sebagai seorang sosialis.

 

 

Ia suka membantu. Suka melapangkan jalan orang. Dan gemar melepaskan orang lain dari belenggu kesusahan hidup.

 

AYAH  DAPAT PENGHARGAAN DARI PRESIDEN SOEHARTO

DAN DARI PRESIDEN MEGAWATI SERTA PRESIDEN SBY

 

Pada masa-masa rezim Orde Baru, H Syukri sering mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto berupa Kalpataru di bidang penghijauan,  Bahkan, ia juga sering diundang oleh Universitas Andalas padang untuk menjadi dosen tamu pada Kuliah Umum tentang ekonomi dan pertanian.

“Papa juga pernah dapat penghargaan dari presiden Megawati yaitu Pemulia Muda yang dinilai melalui LIPI dan juga pernah dapat penghargaan dari Presiden SBY yaitu adikarya pangan Nusantara”, kata NC dalam senyum seindah bentangan panorama kabupaten Solok.

 

“ Beberapa tahun yang silam, dari Pak H Syukri saya mendengar tentang ‘perang’ masa depan….”, kata seorang tokoh muda Solok Ukma Elsa Dias sahabat Nofi Candra.

 

“ Perang yang sesungguhnya adalah perang pangan…”, kata Pak H Syukri yang dikutip kembali oleh Ukma. “ Pak H ngomong begitu bertahun-tahun yang lalu”, ulas Ukma yang sangat kagum pada H Syukri. “ Bayangkan, bertahun-tahun silam beliau sudah mengkhawatirkan soal ketersediaan pangan kita. Beliau sudah mengkhawatirkan fenomena manusia makin banyak luas  lahan makin menyusut. Beliau sangat cerdas. Sangat intelek. Beliau penyantun dan rendah hati”, kata Ukma.

 

BUAH JATUH TAK JAUH DARI POHON

Pepatah klassik berkata : Buah  jatuh tak jauh dari  pohonnya. Istilah di atas gambaran  sifat dan karakter anak yang  tidak jauh dari orangtuanya. Anak meniru perilaku orangtuanya. Karakter dan kepribadian Nofi Candra banyak dipengaruhi oleh sang papa.

 

H Syukri itu merakyat. Suka berkawan. Disayang dan disegani  banyak orang. Berpengaruh dalam nagari. Anaknya, juga begitu. Berkawan banyak. Tak banyak ‘ciik minyak’ (alias tak banyak gaya atau lagak). Bersahaja. Tak bertipe “jaiman”. Tak berberat-beratkan badan. Rajin berkuras. Rajin beribadah.

 

 

Maka mari kita mulai tikam jejak seorang Nofi Candra.

 

Nofi tak sedikit pun berlatar belakang politisi. Sejak remaja ia seperti tak pernah tertarik memasuki dunia politik. Ia biasa-biasa saja. Yang tak biasa baginya adalah “selalu mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat”.

 

Ia paling enggan membuang langkah percuma.

 

“ Hidup terlalu singkat. Terlalu sayang bila digunakan untuk hal-hal yang mubazir. Saya hanya berupaya di tiap nafas di tiap langkah untuk selalu berupaya berbuat yang positif dan menjauhi hal-hal yang sia-sia dan hanya sekedar pembuang-buang usia. Saya hanya berupaya menjadikan hidup ini menjadi hidup yang penuh manfaat, bermanfaat bagi diri, bagi keluarga, bagi lingkungan dan bagi alam semesta. Ya, hidup mestilah rahmatan lil alamin!” kata Nofi Candra suatu hari di tepian danau Singkarak dalam riak nan tenang.

 

Sejak remaja, bakat NC yang paling tersumbul adalah menjadi “saudagar”. Ia tak segan-segan menggalas sesuatu. Spirit dagang ini mungkin mengucur dari sang ayah.

 

NC berkampung di Saniangbaka Singkarak. Orang Saniangbaka, besar di Cupak tempat sang ibunda mengajar SD dan sekolah di kota Solok dikenal sebagai perantau yang sukses. Tercatat, dari sekitar 10 ribu perantau yang tergabung di IWS (Ikatan Warga Saningbaka), sebagian besar berekonomi baik. Jarang nian orang Saniangbaka yang gagal di perantauan.

 

Semangat merantau NC sangat besar.

 

Ia ingin menjadi seorang saudagar. Ia ingin menjadi pedagang yang sukses. Kalau NC berterus terang ke sang ayah, bahwa setamat SMA ini ia ingin ‘mengadu untung’ ke rantau orang, bias dipastikan sang ayah akan melarang. “ Kalau hanya untuk mencari duit, mengapa harus merantau, di kampung juga bisa”, begitu kira-kira alasan sang ayah.

 

Apalagi pada saat itu, perusahaan sang papa, Toko Usaha Tani (UT) sudah tumbuh menjadi toko besar. Namun agaknya, NC tak mau menumpang sukses pada toko sang ayah. Ia anak lelaki dari ranah Minang. Adat lelaki Minang, lalok di surau,  bagaul  di tangah  pasa (berdagang).

 

JADI PEDAGANG SAMBIL KULIAH

Ia ingin mandiri. Kemudian ia memili alasan yang tepat. Ya, ia pilih kuliah di Universitas Borobudur Jakarta. Sang ayah merestuinya.

 

Tapi, apa yang terjadi?

 

Pada semester 1 dan 2 itu NC jadi jarang masuk kuliah. Ia lebih sering berdagang. Ia manggaleh. Pada usia-usia 19 tahun itu NC sudah menggalas pakaian ke Malaysia dan Singapura. Itu sekitar tahun 1993. Seminggu NC menggalas di Malaysia. Kemudian balik lagi ke Jakarta. Masuk kembali ke lokal. Setelah itu, seminggu kemudian NC berdagang baju pula ke Singapura. Seminggu balik lagi ke Jakarta. Kemudian masuk kuliah lagi.

 

Tiap seminggu pulang menggalas dari Malaysia dan Singapura itu, berapa NC membawa keuntungan?

 

Wow. Ckkkkk !

 

Sekali seminggu NC meraih keuntungan sampai Rp 40 juta. Bayangkan, harga mobil kijang baru pada masa itu sekitar Rp 30 jutaan. Kini harga mobil kijang sekelas Avanza sekitar Rp 200 juta. Kalau dinilai dengan duit sekarang, nilai untung NC sekitar lebih Rp 200 juta seminggu.

 

Ayah NC berpesan. Serajin-rajin berdagang, kuliah jangan sampai tidak tamat. Akhirnya NC mengambil kelas malam di kampusnya. Dan ia berhasil menggondol sarjana ekonomi.

 

Walau orangtuanya kaya, tapi biaya kuliah NC bukan dari sang ayah. Ia kuliah sambil jadi “pengusaha”. Tak tanggung-tanggung banyak pitihnya.

 

Bahkan semasa kuliah NC sudah punya konter jamu yang lumayan besar di Bandung. Keuntungan dari usaha jamunya itu, lebih banyak ia gunakan untuk ‘menyantuni’ orang banyak. Seorang NC adalah seorang pembuka jalan bagi orang lain. Ia sering memberi orang lain modal usaha. Ia senang saja melihat modal yang ia berikan berkembang bagus. Jarang kok, NC minta bagi hasil segala.

 

“ Novi itu apa adanya. Ia berlaku dan berbuat tulus-tulus saja”, seorang kawannya berkata begitu.

 

Kemudian NC mengembangkan beberapa perusahaan. Ia Direktur Utama PT Andalas Agriindo Mandiri, Direktur Utama PT Nuansa Citra Sejati, Direktur CV Usaha Tani, Komisaris Utama PT Citra Nusantara Mandiri Solok, Komisaris Utama PT BPR Artha Niaga Solok, Pimpinan NC Super Market, Direktur CV Nusa Jaya Tama.

 

Menjadi pengusaha, NC terbilang sukses.

 

Kesuksesan berusaha tak pernah mengubah kepribadian NC. Ia tetap sebagai Novi yang ramah. Yang apa adanya. Yang tidak jaim-jaiman. Yang suka main domino. Yang suka membantu orang banyak. Yang dermawan. Yang santun pada orang tua. Yang adat sosialnya sungguh sungguh beradat kata “Nan Empat”.

 

 

BERORGANISASI ATAS DORONGAN KAWAN-KAWAN

 

Kemudian NC mulai diminta oleh koleganya  untuk mengurus beberapa organisasi.  Ia dipercayai menjadi Ketua DPP KUKMI (2001-2006), Ketua KNPI Kota Solok (2009), Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Solok (2012).

 

Ketika menjadi ketua KNPI Kota Solok, tentulah NC banyak berhubungan dengan berbagai lapisan masyarakat, mulai berhubungan dengan orang-orang eksekutif (pemerintahan). Dalam berorganisasi ia dikenal sangat supel dan berpantang menyakiti hati orang. “ NC itu tipe orang suka berkawan”, kata sang sahabat Ukma.

 

Kawan-kawan juga yang mendorong dan menyemangati NC untuk masuk ke dunia politik. Mungkin pada saat itu NC melihat dan memandang dunia politik dunia “keras”.

 

Tapi tetap saja kawan-kawan mensuport NC untuk maju ke gelanggang politik. Sebagian ada yang mengusulkan NC supaya ikut mencaleg di DPR RI dari Dapil 1 Sumbar. Masa itu, memang banyak partai yang hendak memberi tempat pada NC.

 

Tapi NC kembali berpikir. Ia ingin sesuatu yang lebih “netral”. Maka pilihannya adalah menjadi caleg DPD.

Sebagai pendatang baru di pencalonan DPD, banyak publik politik yang agak terkejut dengan tingginya tingkat popularitas NC. Takdir Allah menetapkan, NC berhasil terhantar ke DPD. Perolehan suaranya cukup besar untuk meraih tiket kursi DPD.

 

NC sangat yakin, dengan duduk di DPD ia akan lebih maksimal menyuarakan aspirasi masyarakatnya, terutama kaum petani. Membayangkan ini, betapa senangnya hati NC.

 

Tersebutlah sebuah kisah. Sebelum dilantik menjadi anggota DPD, NC bertemu dengan adik mamanya. Ia memanggil adik mama dengan Uniang. Uniang staf ahli salah seorang anggota DPD. Habis berdialog dengan Uniang, NC langsung patah semangat. Ia risau. Ia galau. Belakangan ia baru sangat menyadari bahwa fungsi anggota DPD (senator) tidak sekuat fungsi anggota DPR dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan tugas murni sebagai legislator yakni penyusun undang-undang.

 

Lazimnya, DPD tidak bisa langsung menyuarakan aspirasi rakyat kemudian terwujud dalam bentuk program. Untuk ini harus melalui DPR. DPD tidak punya kekuatan menyusun Undang-undang. Yang menyusun undang-undang, ya DPR bersama-sama dengan Pemerintah.

 

Galau NC, galau rasa-rasa tak maksimal menyuarakan aspirasi daerahnya.

 

Tapi NC tak boleh mundur. Ia harus menghadapi ini dengan semangat dan harapan baru. Ia ikuti pembekalan untuk anggota DPD. Ia simak baik-baik. Ia pahami. Pada sedikit peluang itulah NC memaksimalkan fungsinya sebagai anggota DPD asal Sumbar.

 

Dalam sebuah acara silaturahim di nagari Saningbaka Kab. Solok, Gubernur Sumatera Barat Irwan Priyitno (IP) menilai kinerja Anggota DPD RI Nofi Candra   sudah memberikan dampak bagus bagi warga Sumbar. Bahkan Irwan menyebut, Nofi Candra sudah layak untuk manjabat sebagai gubernur.

 

ADA CERITA LAIN

SOAL BAWANG

 

Beberapa tahun yang lalu, harga bawang sangat anjlok. Banyak petani yang merasa terpuruk dengan terjun bebasnya harga bawang di pasaran. Kemudian Menteri Pertanian yang masa itu dijabat Andi Amran Sulaiman turun ke lapangan. Senator NC ikut mendampingi. Kepada petani menteri berjanji, bila harga bawang tetap anjlok, maka pihaknya akan memberi solusi dengan membeli bawang petani dengan harga “wajar”.

 

Bahkan di hadapan petani NC kembali menegaskan. “ Janji ya Pak ya?” kata NC. Pak Menteri mengangguk. Waktu itu NC berada di Komisi II DPD yang salah satu bidang tugasnya adalah pertanian.

 

Waktu berlalu. Harga bawang anjlok terus. Janji Pak Menteri belum juga terealisasi. Pada masa itu, salah seorang  staf ahli NC di DPD adalah Ukma Elsa Dias,  sang sahabat. Kepada Ukma NC berpesan untuk membawa beberapa orang petani ke Jakarta menemui Menteri Pertanian.

 

NC benar-benar mempertemukan beberapa orang petani dari Solok  dengan Pak Menteri. Pertemuan berlangsung hangat dan akrab. Pak Menteri bahkan mempersilakan beberapa petani itu duduk di kursi di balik meja kerjanya.

 

Saat itu Pak Menteri langsung menelpon Bulog guna mencari solusi soal harga bawang yang anjlok dan mencari solusi supaya bawang itu dibeli pihak pemerintah. Maka Bulog dan bahkan Pemerintah kabupaten Solok membentuk Tim.

 

NC senantiasa “menekan” pemerintah supaya memborong bawang petani tersebut. Juga,meminta supaya pihak kementerian pertanian menepati janji yang tersampaikan pada para petani bawang.

 

Sementara, di tengah petani awam terbetik kabar bahwa yang berjanji hendak membeli bawang petani itu adalah NC, padahal bukan NC. Yang berjanji Pak Menteri yang NC justru mengingatkan Pak Menteri. Saking seriusnya, NC sampai memboyong petani dari Solok bertemu Menteri. Pada akhirnya, pemerintah gagal membeli bawang petani. Mungkin terkendala regulasi.

 

Padahal NC itu adalah sosok yang sangat berpihak pada petani. Ia pejuang petani sejati. Sebutan ini pantas dan patut disandangkan pada Novi Chandra !

 

 

KATA IRWAN JADI GUBERNUR

KATA MENTERI JADI BUPATI

 

“Kalau mau berbuat baik ke petani, ya bagusnya Pak Nofi jadi bupati saja….karena Solok adalah Surganya Pangan Dunia” kata Menteri Pertanian semasa dijabat Andi Amran Sulaiman.

 

Ops bagaimana ini?

 

Sementara Irwan Prayitno mengatakan NC layak jadi gubernur.

 

Ohya, apakah NC tertarik jadi Gubernur?

 

” Saat ini saya sudah jadi Gubernur Tani, yang melantik saya petani, Kalau sama petani, setiap pulang kampung pasti kita kumpul-kumpul. Saya sedang siapkan bosstani.com untuk kesejahteraan petani Sumbar,” guyon lelaki yang akrab disapa Senator Nofi ini.

 

Jadi calon gubernur ataukah NC jadi calon bupati Solok?

 

Tunggu dulu. Kita bahas dulu soal ini.

 

Publik politik Sumbar heran habis. Mengapa?

 

Ternyata nama Nofi Candra tak tercatat sebagai calon anggota DPD RI. Padahal peluangnya sangat besar. Banyak publik bertanya, mengapa NC tidak maju saja dulu menjadi anggota DPD RI, setelah itu kan bisa mundur.

 

Lagi pula kans NC menjadi anggota DPD RI itu sangat besar.

 

Akan keputusan NC ini publik menilai; NC tak rakus kekuasaan. Ia orangnya konsen. Baginya kekuasaan adalah untuk membantu orang banyak.

 

Ada juga yang berkata, mengapa NC tidak maju menjadi calon walikota Solok. Bukankah popularitas NC sangat tinggi di Solok. Perusahaan NC nyaris seluruhnya berada di kota Solok. Kalau dilihat-lihat tentu lebih agak sederhana bertarung di “kota” ketimbang di “kabupaten”.

 

Mengapa NC tidak pilih bertarung di pilkada kota Solok?

 

Saya menilai, NC itu sosok yang dalam darah dagingnya mengalir semangat petani. Kalau di kota, mungkin tak banyak yang dapat ia kembangkan –terutama dalam pembangunan pertanian. Beda dengan di kabupaten. Lahan pertaniannya luas. Tentulah pikiran NC untuk lebih memajukan petani akan seluas lahan pertanian di kabupaten Solok.

 

Saya menilai, NC bukan tipikal orang yang banyak bicara. Ia tipe-tipe pemimpin yang banyak kerja. Ia bagai-bagai pemimpin yang “praktis” dan pragmatis. Ia bukan pemimpin banyak teori. Ia bertipe tukang eksekusi pikiran, bukan tukang yang menghabis-habiskan waktunya untuk berpikir ke berpikir saja.  Ia bukan seorang pewacana. Ia pelaksana yang melaksanakan aspirasi warga !

 

Bagi saya NC itu mirip sepotong sajak rendra : “ Hidup adalah pelaksanaan dari kata-kata !”

 

Dan seorang Nofi Candra adalah seorang pelaksana kata-kata !

 

Padang 7 Desember 2019/ Pinto Janir

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed