oleh

Dulu Gubernur Sumbar Nan Polisi Datuk Rangkayo Basa, Kini Insya Allah Pak Fakhrizal…!

-KAMPUS-0 views

Catatan : Febby Datuk Bangso ( Ketua DPW PKB Sumbar)

Mana mungkin publik Sumatera Barat memungkirinya ketika nama Kapolda kita, Irjen. Pol. Drs. H. Fakhrizal, M.Hum menggema di ranah Minangkabau tacinto  dalam alunan ‘rindu’ masyarakat kita. Ia menjadi fakta cinta di relung hati  warga Sumatera Barat yang sudah lama merindukan kehadiran seorang pemimpin yang kharismatik, ramah, merakyat, gagah dan adil di ruang kebijaksanaan dalam kearifan lokal Minangkabau.

 

Sekalipun  terindikasi sinyal  kedengkian politik yang seolah-olah  berupaya menyentuh popularitasnya, namun justru sebaliknya  Fakhrizal  kian hari namanya semakin tumbuh dan  mekar bak taman bunga di hati  banyak orang.

 

Banyak memang  putra-putri asal Sumatera Barat yang berprestasi dan namanya terukir indah dalam sejarah perjalanan Polisi Republik Indonesia. Antara lain; ada Jendral Awaluddin Djamin yang pernah menjabat Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) dan  Kombes.Pol (purn) Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa.

 

Ya, seorang Fakhrizal mengigatkan kita pada Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa– yang  lahir di Maninjau, Agam, Sumatra Barat, 17 Januari 1906 – meninggal di Padang, Sumatra Barat, 1 April 1981 pada umur 75 tahun.

 

Kaharuddin merupakan seorang anggota polisi Republik Indonesia dengan jabatan terakhir Kepala Kepolisian Sumatra Tengah.  Dan kemudian  Kaharuddin menjadi Gubernur Sumatra Barat yang pertama (1958-1965)—setelah provinsi Sumatra Tengah kemudian dimekarkan berdasarkan Undang-undang Darurat Republik Indonesia nomor 19 tahun 1957.

 

Setahu kita hanya Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa yang menjadi gubernur Sumbar dengan latar belakang polisi. Datuk Rangkayo Basa pernah menduduki jabatan mulai dari Asisten Demang, Asisten Wedana Polisi, Kepala Polisi Padang Luar Kota, Kepala Polisi Keresidenan Riau, Kepala Polisi Kota Padang, Kepala Polisi Provinsi Sumatra Tengah dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatra Barat.

 

Kita ingat bahwa masa jadi Gubernur di Sumbar, Datuk Rangkayo Basa  mengalami tekanan berat atas munculnya PRRI, satu sisi sebagai wakil bagi perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah dan pada sisi lain sebagai pemimpin pada kawasan wilayah yang masyarakatnya bergejolak atas ketidak-puasan kepada pemerintah pusat. Namun demikian, datuk rangkayo Basa bersikap bijaksana dan adil dalam kearifan. Hingga, ia tidak meninggalkan luka di hati orang kampungnya dan tetap setia pada Pemerintah Pusat.

 

 

Datuk Rangkayo Basa, gubernur  yang berasal dari polisi yang disayang  ninik mamak, ulama, cadiak pandai dan masyarakat kita. Tak ada sejarah yang menyebutkan, Datuk Rangkayo berselisih dengan kaum adat dan kaum agama. Ia adalah seorang “perangkul” massa sehingga namanya abadi di ruang dada masyarakat Sumbar dan tertulis indah di tinta emas sejarah  kepemerintahan dearah Sumatera Barat.

 

 

Seorang  Fakhrizal mengingatkan kita pada sosok Datuk Rangkayo Basa yang menjadi Gubernur pertama pasca pemekaran Sumatera Tengah menjadi Sumatera Barat.  Sejarah menulis, Datuk rangkayo Basa orangnya ‘santiang’—takah, tageh, tokoh dan kharismatik.

 

Ia polisi ninik mamak. Persis seperti Fakhrizal.

 

Hari demi hari, kita menyimak, memantau, membaca, melihat, memandang dan mendengar hawa politik Sumatera Barat terkini menyonsong Pilkada Gubernur nanti. Dalam pada itu, kita berkesimpulan, seorang Fakhrizal berpeluang besar memenangkan pertarungan Pilkada Sumbar. Itu berarti, Fakhrizal mengulang kembali  sejarah masa jaya pemerintahan Sumatera Barat dalam jabatan Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa yang berlatar seorang polisi.

 

Melihat situasi terkini dan mencermati Sumatera Barat ke depan, seorang Fakhrizal  adalah sosok yang berpotensi besar membawa pembangunan Ranah Minang ke ruang-ruang keniscayaan  pembangunan kita.

 

Sosoknya yang ‘humble’ dan ‘smart’ – sederhana dan merakyat, santun dan bijaksana, tegas tak melukai  adalah figur yang sebenarnya sedang dinanti-nanti oleh ‘bumi’ Minangkabau nan balawik sati  yang rantaunya batuah.

 

Ia akan sangat berpotensi menjadi perekat antara rantau dan kampuang halaman, antara rang rantau dan rang kampuang. Banyak kelebihan dan keutamaan  dari Pak Kapolda kita ini. Ia memiliki link yang bagus dengan Pemerintah Pusat, apalagi di saat mana jabatan Menteri Dalam Negeri dijabat olah Pak Tito yang mantan Kapolri. Klop sudah !

 

Kita tak boleh melupakan sejarah. Bagaimanapun juga, fakta adalah fakta. Ia akan terus tercatat. Baik menjadi sesuatu yang manis maupun menjadi sesuatu yang pahit. Jumlah suara Jokowi-Maa’ruf yang hanya kurang 15 persen di Sumatera Barat adalah sebuah catatan kelat di “pusat”.

 

Tokoh yang menjadi Gubernur Sumatera Barat ke depan, haruslah sepantun dengan “obat” yang dapat menyembuhkan hati yang “di pusat”. Kalau tidak, niscaya; tak tertutup kemungkinan , kita akan terpapar dalam kesekaratan politik yang bisa saja membuat kita ‘melarat’.

 

Saya berpendapat, Fakhrizal adalah “obat” yang memberikan “kesembuhan” ekonomi,budaya, pariwisata,perdagangan, pendidikan dan pembangunan bidang  spiritual atau agama.

 

Ia, orang surau yang paham kearifan lokal dalam tatanan kebudayaan kita.

 

Kalau saja beliau maju dari Parpol , besar kemungkinan PKB akan mendukung beliau . Kita  terus memunculkan dan menggadangkan tokoh bakal calon gubernur agar setelah para calon bermunculan  tentu akan banyak masukan yang akan kita terima , baik dari masyarakat langsung ataupun tokoh masyarakat.  Sehingga masukan itu nantinya akan jadi pertimbangan dalam memutuskan siapa yang  benar-benar pantas dan patut   kita dukung.

 

Kepada Fakhrizal,  dukungan dan harapan  masyarakat sangat tinggi . Sekalipun  beliau “dirembai-rembai” dan dicacar dalam nuansa yang terindikasi tendensius  oleh  sedikit gelintiran suara  namun itu tak memengaruhi  tingkat popularitas seorang  Fakhrizal  di hati  masyarakat Sumbar.

Di mana-mana, gema dan gaung, kedatangan dan sambutan untuk Fakhrizal  kian hangat dan semarak. Kita tak boleh mengingkari ini.

Mungkin saja, Fakhrizal sedang ‘didekati’ takdir karena aroma namanya  kian hari kian harum.

 

Dalam hal ini PKB Sumbar  terus  memantau sepanjang hari siapa yang g sesungguhnya bakal calon ini yang akan berlabuh .  Kita butuh calon pemimpin yangg smart , simpatik , berani menanggung ri siko dan yang terpenting ia  berlaku dan berkelakuan baik.

 

Komunikasi politik yang dibangun PKB selama ini mulai dari Mulyadi (anggota DPR RI asal dapil 2 Sumbar)  , hingga Shadiq Pasadiqoe (mantan Bupati Tanahdatar) ,  Nasrul Abit  (Wagub Sumbar kini) dan Epiyardi  Asda dan Mahyeldi (walikota Padang kini) hingga Pak Kapolda kita Fakhrizal,  semuanya kita komunikasikan apa saja harapan yang tertumpang dari masyarakat untuk kemajuan Sumatera Barat ke depan.

 

Bila begitu, selamat menjaring dan menyaring calon gubernur nan di hati.

 

Bukittinggi 24 November 2019/Febby Datuk Bangso

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed