oleh

SELEKSI CIK AJO 2020 DILAKSANAKAN DI SATPOL PP , TIDURNYA DI SURAU

 

GENIUS UMAR ‘MENGCREATE” PEMILIHAN

CIK UNIANG CIK AJO PARIAMAN 2020

 

PARIAMAN—-Bukan Genius Umar namanya kalau tak ‘mengcreate” sesuatu  menjadi  lebih baru dan terbarukan. Ia memang tipe walikota antimonoton.

 

Ia enggan terjebak di suatu ‘ruang’ bernilai kaku yang tak mencerminkan kreativitas.

 

Gaya kepemimpinannya saja bukan gaya ‘ala birokrat’. Gayanya, gaya hangat dan bersahabat. Kalau usia stafnya lebih besar dari Genius, ia memanggil staf itu bukan dengan “Bapak atau Ibuk”. Bukan begitu. Sering ia terdengar memanggil uda atau uni kepada stafnya yang usianya lebih tua darinya.

 

Genius memang walikota muda yang santun, ramah dan bersahaja. Ia  jauh dari pendekatan “atasan bawahan”.  Ia memimpin tidak dengan pendekatan “kekuasaan” tapi adalah dengan  pendekatan “rasa”.  Baginya, ‘kesulitan’ adalah ‘peluang’ bukan tekanan.

 

Ia yang selalu riang dan ia yang selalu gembira dalam hidup yang bahagia dalam segala kelapangan dada dan kecerdasan berpikir adalah Genius Umar yang Walikota Pariaman. Adalah ia yang sering ‘mengcreat krisis’ menjadi sesuatu yang bernilai produktif dan ekonomis.

 

“ Tuhan memberikan kita pikiran untuk berpikir. Mengapa enggan berpikir?  Tuhan memberikan kita hati untuk merasakan dan berperasaan, jangan lenyapkan hati? Lamak dek awak, katuju dek urang”, Genius  berkalimat filosofi.

 

Filosofi Genius memang filosofi kreatif.

KREASI BARU PEMILIHAN CIK UNIANG DAN CIK AJO 2020

Kota Pariaman hampir tiap tahun menyelenggarakan Pemilihan Cik Uniang Cik Ajo.  Banyak sudah ‘alumni’ Cik Uniang Cik Ajo. Kata Genius dalam suatu diskusi, Senin 11 November 2019 di Pariaman, “ Tiap kegiatan harus berkelanjutan. Ia tak boleh berhenti sampai acara selesai , kemudian dilupakan begitu saja.  Saya minta Dinas Pariwisata melakukan evaluasi   kegiatan pemilihan Cik Uniang Cik Ajo yang telah berkali-kali kita laksanakan”.

 

Para pememang Cik Uniang Cik Ajo harus benar-benar menjadi duta wisata dalam kesungguhan , bukan dalam ‘kta-kata’ semata. Mereka jangan hanya kita minta menjadi penyambut tamu saja. Bukan begitu.

 

Kata Genius, kalau ia kita sebut sebagai Duta Wisata, duta wisatanya bagaimana? Apakah hanya sekedar menyambut-nyambut tamu itu saja? “ Tentu tidak begitu, ya?” kata Genius Umar.

 

“ Kita segera akan lebih menjadikan anak-anak muda potensial tersebut menjadi pemuda-pemudi pionir kreativitas anak muda kota Pariaman. Bagaimana bentuknya, nanti  kita susun. Bisa saja, kita ciptakan untuk mereka sebuah sanggar kreatif. Bisa seperti sanggar seni, musik,literasi,budaya, tradisi dan lain sebagainya”, kata Genius Umar.

 

Genius Umar akan mengcreate pemilihan Cik Uniang Cik Ajo tahun2020 . Ia akan mengubah total konsep Cik Uniang Cik Ajo yang selama ini menjadi tradisi dan kalender kegiatan pariwisata di Pariaman.

 

Pemilihan Cik Uniang Cik Ajo tak lagi di ruang yang sama. “ Kita pisahkan kegiatannya. Cik Uniang, ya Cik Uniang saja …pemilihan Cik Ajo, ya Cik Ajo…tak boleh dicampurbaurkan pelaksanaannya kita pisahkan”, ujar Genius.

 

Pemilihan Cik Uniang tak boleh berkesan glamor atau gemerlap dalam kaca hedonis dunia.

 

“Kita tahu, perempuan di Minangkabau dilambangkan sebagai  limpapeh rumah nan gadang, sumarak anjuang nan tinggi. Di Minangkabau perempuan dewasa atau kaum ibu disebut  bundo kanduang. Ia lambang  kehormatan dan kemuliaan. Seorang perempuan yang menjadi Bundo Kanduang , bukanlah hiasan fisik saja. Ia harus memiliki kepribadian mulia.  Ia harus  paham  ketentuan adat yang berlaku. Tahu dengan malu dan sopan santun. Tahu dengan basa basi dan tahu cara berpakaian yang pantas dan patut. Ia makin sempurna jika santiang mamasak”, kata Genius Umar.

 

Para peserta Cik Uniang dilatih bukan di hotel. Tapi, tempatnya di rumah gadang. Kita akan berikan peserta pengetahuan adat , seni dan budaya.

 

“  Para peserta harus cakap memasak. Pandai mambuek gulai masin, randang, gulai toco dan masakan lainnya. Kita carikan instruktur untuk itu. Kita carikan mereka guru ngaji. Perempuan Minang harus pintar mengaji. Syarat menjadi juara, harus pandai mengaji. Dan mereka juga kita ajarkan untuk menulis. Ada nanti kelas menulisnya. Karena mereka kita harapkan kelak menjadi duta ‘promo wisata’ kota Pariaman. Ia sekaligus sebagai publicrelationnya kota kita ini”, ujar Genius Umar.

 

“Lenggang lenggok bukan lenggang lenggok kaki di tas pentas, tapi adalah lenggang tangan pintar memasak, jari pintar menyulam. Begitulah idealnya Cik Uniang tahun depan “, kata Genius Umar.

 

Untuk pemilihan Cik Ajo, kali ini seleksinya bahkan unik. Walikota mengatakan seleksi Cik Ajo tahun 2020 di Pariaman akan dilaksanakan di Satpol Pamong Praja (PP) dan akan “dikarantinakan “ di Kodim serta dilatih baris berbaris untuk lebih tageh dan berdisiplin.

 

Kata Walikota, peserta Cik Ajo tidak diinapkan di hotel, tapi adalah di surau. “ Karena tenpat lelaki bujang di Minangkabau adalah di surau. Mereka kita latih basilek dan mangaji”, ujar Genius.

 

Kata genius surau adalah ‘sekolah alam” bagi laki-laki Minang. Di surau laki-laki Minang tak saja berguru soal mengaji memperdalam ilmu agama Islam. Lebih dari itu, laki-laki Minang di surau diajarkan “mengkaji”. Ya, mengkaji kehidupan dan tata cara pergaulan sosial di ruang kesejahteraan ekonomi kita. Belum sempurna eksistensi laki-laki Minang, sebelum ia pandai bersilat. Filosofi silat, lahir mencari kawan, bathin mencari Tuhan.

 

Disampaikan Genius, mengaji, mengkaji, berdagang, hidup tenggang rasa (sosial), ilmu kepemimpinan, dan bersilat adalah buah dari konsep “hidup berbasis kesurauan”. Anak laki-laki Minang harus terlahir dan terdidik sebagai individu yang berkarakteristik. Harus tumbuh menjadi seorang yang mandiri. Karena, anak laki-laki Minang kelak akan memikul tanggung-jawab yang besar, baik sebagai mamak, maupun sebagai ayah.

 

“ Makanya, para peserta Cik Ajo harus kita didik menjadi lelaki Minangkabau sejati  yang berpikir dan berbuat kreatif. Ia tumbuh dan dididik dan tekun berusaha dengan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, bukan memanfaatkan kekuasaan dan kekayaan ayah atau sang mamak, bukan begitu. Ia harus punya kegiatan dalam kondisi apapun baik ketika duduk maupun ketika berdiri. Ia menjadi lelaki mandiri”, ucapnya.

 

Para Cik Ajo juga kita latihan kepandaian menulis. “Mereka harus cakap menulis. Karena, mereka juga seklaigus akan menjadi ‘publicrelationnya’ bagi kota kita. Ya, tempat pelaksanaannya, di surau”, ujar Genius.

 

“ Di surau itu para peserta Cik Ajo tidak saja kita latih bersilat dan mengaji tapi juga  kita latih  kepandaian  enterpreneurship , berwawasan, pandai berkawan, dan tegak serta berdiri di atas hati dan pikiran sendiri di ruang kecerdasan-kecerdasan hidup. Para peserta harus merasakan bagaimana tidur di surau, bukan di hotel”, ujar Genius seraya mengatakan, lelaki Minang harus kuat dan tageh.

 

“Ingat,  adatnya lelaki.  Kok ingin kayo, kueklah mancari , Nak pandai kuek baraja”, kata  Genius. (PJ)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed