HEADLINEREGIONAL

TRAGIS, SAAT SESAT DI JALAN,PANGKAL TAK PULA BERTEMU

MEMAKNAI TELUNJUK LURUS KELINGKING BERKAIT

Catatan: Febby Datuk Bangso (FDB)

Hidup itu “mencari”. Karena senantiasa dalam “mencari” segala orgen dan panca indra kita hidup. Tanpa adanya upaya “pencarian” maka kepastian hidup menjadi “gelap”. Hidup yang gelap akan membuat kita terpapar ke jurang sepi yang sangat lengang. Ia tidak sunyi.

Anugerah dan potensi manusia itu adalah cipta, rasa dan karsa. Manusia berpotensi menciptakan dan membuat sejarah. Manusia berhakekat karena “rasa”. Karsa melahirkan cipta. Rasa melahirkan karsa. Begitulah menurut saya. Bahwa manusia yang berpikir dan manusia yang berhati menciptakan kebudayaan yang beradab. Tiap pikiran yang diterima ruang dan massa, ia cendrung menjadi custom.Menjadi kebiasaan. Menjadi tradisi.

Pendapat saya, hukum “kebenaran” dalam tradisi adalah “relatif”. Kebenaran bisa menjadi tambah benar, sementara atau bahkan, kekeliruan yang dibiasakan, lama-lama ia dianggap menjadi sebuah “kebenaran”. Hukumnya, hukum “pembenaran” . Hukum pembenaran pada kontrak sosial, suatu saat akan kembali kepada tempatnya, yakni kekeliruan.

Kita tidak heran, betapa banyaknya ruang dan waktu membesarkan orang-orang yang sebenarnya keliru. Dan suatu saat, ruang dan waktu juga yang akan menjatuhkan palu kepadanya. Ruang dan waktu bisa “membesarkan” dan “menaikkan” kita manusia.Dan ruang dan waktu, juga bisa mengecilkan serta menjatuhkan kita dalam “perhitungan” yang “dalam”.

Karena manusia punya otak dan hati, adatnya mencari. Alam sekeliling adalah kaca tempat bercermin diri. Alam takambang nan manjadi guru. Mengambil contoh kepada yang sudah, mengambil tuah kepada yang menang.

Ya, adatnya manusia mencari tahu. Tapi bila bertemu persimpangan, di saat kita, atau kau ragu, usah bertanya malu-malu. Malu bertanya, kau tidak akan pernah sampai pada apa yang kau tuju. Ketika kau berjalan terlalu amat jauh dengan membawa gelisah, maka pada saat itu, bayang-bayang ketakutan dengan segala kekhawatiran akan membuat diri kita makin lelah lalu terpapar pada altar yang sangat tragis.

Jangan pernah berjalan sambil menenteng sekeranjang kesalahan masa lalu. Kesalahan masa lalu yang tak tersandang di bahu, ia hanya akan menjadi “hantu” di tiap langkahmu. Tiap langkahmu menjadi hakim di tiap kesalahan atau kekeliruanmu. Tiap langkahmu, gagap.
Meninggalkan jalan lama dan meneruka jalan baru, bukanlah sesuatu yang keliru.Karena, adat manusia yang selalu ingin tahu dan mencoba sesuatu, bukanlah sebuah kesalahan. Ia hanya sebuah keprihatinan ketika orang lain melihat betapa di tiap pemberhentian, kau sibuk mengemasi duri-duri yang menusuk tapak kakimu, merembai tanganmu, bahkan kau pun tak mampu mengelakkan ranting yang menusuk ujung matamu.

Ingatlah akan nyanyian seorang penyair sepi: “ Pada yang belum tentu tahu , dalam kaji tak pernah sampai , di tepi kaji kau terasa sampai. Bila kaji tak putus, kau tak harus mengganti guru. Yang kau lakukan adalah mengganti sudut pandangmu!”

Pada orang-orang gelisah aku hendak bertanya, sampai kapan kau terus mencari ? Apa yang kau cari? Kegelisahan?Kepanikan?Ketakutan? Atau kebahagiaan yang sumir? Kecemasan muncul karena kau belum paham dengan apa dan mana yang kulit dan apa dan mana yang isi, sehingga kau terjajar nestapa menyimpulkan “bagaimana”.

Aku menulis di sini dalam ruang tersunyi. Bahkan, sebegitu sangat rapatnya, angin pun tak lalu. Aku tak pengap, karena pikiran dan hati adalah oksigen yang tak pernah mati. Aku hanya bergumam, betapa banyaknya manusia yang salah mencari tempat bertanya kemudian menghantarkanmu pada pelabuhan yang sesat.

Belajarlah pada kata nan empat. Tersuratnya, jelas dan terang. Tersiratnya, sampai di telinga dan berkesan di hati.
Tak baik juga gampang saling menyalahkan satu sama lain. Telunjuk lurus, kelingking berkait; tidak jugakah kau mengerti akan makna pribahasa ini. Haruskah kuingatkan padamu kembali tentang orang munafik yang kelihatannya baik namun hatinya tidak dapat dipercaya. Mari kita pelihara narasi.

Nan merah sago nan kurik kundi , nan baik budi nan elok baso. Yang bermotif itu, kundi namanya. Yang berwarna merah itu saga. berarti yang indah dan yang baik ialah budi bahasa, yang baik itu budi dan yang indah itu bahasa (sopan santun atau tata krama).

Tersurat dan tersirat , jangan gampang merasa benar , jangan mudah melompatkan kata kafir sesama kita , mengaji dan dikaji , kalau tiba waktunya akan sampai rasanya , orang siak tempat bertanya , saat kau ragu , pulanglah ke surau.
Sesat di ujung jalan, lebih baik balik ke pangkal jalan. Sayang, ketika pangkal jalan tak lagi bertemu; diamlah di sini dulu, sampai musik kehidupan berhenti !

HakNya bukan hakmu
Dialah Pemilik Surga

Bukittinggi 11 Otober 2019/ Febby Datuk Bangso

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close